ALAT DIAGNOSTIK KEPRIBADIAN OBYEKTIF DAN PROYEKTIF
ALAT DIAGNOSTIK KEPRIBADIAN
OBYEKTIF DAN PROYEKTIF
Disusun untuk memenuhi tugas
Mata Kuliah : Pengantar
Psikodiagnosis dan Assesment

Oleh :
KELOMPOK 2
FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS MEDAN AREA
2022
KATA PENGANTAR
Kami ucapkan puji syukur kepada Allah
SWT yang telah melimpahkan segala rahmatnya sehinga makalah ini bisa
diselesaikan dengan baik. Penyusunan makalah ini tidak bisa diselesaikan dengan
baik tanpa bantuan dari banyak pihak. Kami juga mengucapkan terima kasih kepada
Bapak Khairil Fauzan, M.Psi yang telah memberikan tugas ini kepada kami. Ada
banyak hal yang bisa kami pelajari melalui penelitian dalam makalah ini.
Makalah berjudul “Alat Diagnostik
Kepribadian Obyektif dan Proyektif” disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah
Pengantar Psikodiagnostik dna Assesment. Selain itu, makalah ini juga
diharapkan bisa memberikan sudut pandang baru tentang alat ukur diagnostik. Setelah
berhasil menyelesaikan makalah ini, kami berharap apa yang sudah kami paparkan
bisa bermanfaat untuk orang lain. Jika ada kritik dan saran terkait ide tulisan
maupun penyusunannya, kami akan menerimanya dengan senang hati.
Medan, Mei 2022
Kelompok 1
DAFTAR ISI
Kata Pengantar.............................................................................................. i
DAFTAR ISI................................................................................................. ii
BAB I PENDAHULUAN............................................................................. 1
1.1 Latar Belakang
Masalah....................................................................
1.2 Rumusan
Masalah.............................................................................
1.3 Tujuan
Penulisan...............................................................................
BAB II PEMBAHASAN..............................................................................
2.1 Tes Objektif.......................................................................................
2.2 Tes Proyeksi......................................................................................
DAFTAR PUSTAKA....................................................................................
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang Masalah
Psikologi adalah ilmu
yang mengkaji tentang manusia dan sifat yang terdapat didalamnya. Psikologi
selalu mengalami kemajuan di dalam proses pengembangan cakupan ilmunya. Ilmu
psikologi ini selalu meneliti manusia dan berbagai aspek yang ada di dalamnya,
baik itu mengenai kejiwaan, minat, bakat, kemampuan, dan berbagai hal lainnya.
Untuk mendapatkan hasil
yang baik dan jelas, maka di dalm ilmu psikologi sering kali dilakukan beragam
rangkaian tes yang akan menunjukkan suatu hasil melalui angka atau pun diagram
hasil tes yang jelas. Hasil ini nantinya akan menjadi tolak ukur untuk menjelaskan
berbagai hal yang berhubungan dengan objek kajian yang sedang diteliti. Berikut
akan dijelaskan mengenai tes pengukuran psikologi.
1.2
Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka rumusan masalah dalam
makalah ini dapat digambarkan sebaagi berikut.
1.2.1
Bagaimana tes objektif?
1.2.2
Bagaimana tes proyeksi?
1.3
Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:
1.3.1 Untuk mengetahui tes objektif
1.3.2 Untuk mengetahui tes proyeksi
BAB II
PEMBAHASAN
2.1
Tes Objektif
2.1.1
Pengertian Tes Objektif
Tes
objektif adalah tes yang dalam pemeriksaannya dapat dilakukan secara objektif.
Hal ini memang dimaksudkan untuk mengatasi kelemahan-kelemahan dari tes bentuk
esai. Dalam penggunaan tes objektif ini jumlah soal yang diajukan jauh lebih
banyak daripada tes esai kadang-kadang untuk tes yang berlangsung selama 60
menit dapat diberikan 30-40 soal (Arikunto, 2009:164). Sementara itu menurut
Hidayat, dkk. (1994:63) tes objektif adalah tes yang terdiri dari item-item (stem)
yang dapat dijawab dengan jalan memilih salah satu alternatif (option)
yang benar dan alternatif yang tersedia atau mengisi jawaban yang benar dengan
beberapa kata atau sandi.
Tes
objektif sering juga disebut tes dikotomi (dichotomously scored item)
karena jawabannya antara benar atau salah dan skornya antara 1 atau 0. Disebut
tes objektif karena penilaiannya objektif. Siapa pun yang mengoreksi jawaban
tes objektif hasilnya akan sama karena kunci jawabannya sudah jelas dan pasti.
Tes objektif menuntut peserta didik untuk memilih jawaban yang benar di antara
kemungkinan jawaban yang telah disediakan, memberikan jawaban singkat, dan
melengkapi pertanyaan atau pernyataan yang belum sempurna. Tes objektif sangat
cocok untuk menilai kemampuan yang menuntut proses mental yang tidak begitu
tinggi, seperti mengingat, mengenal, pengertian, dan penerapan prinsip-prinsip
(Arifin, 2009:135).
2.1.2
Jenis-jenis Tes Objektif
Selanjutnya
Arikunto (2009:165) mengemukakan beberapa jenis tes objektif. Jenis-jenis tes
objektif adalah sebagai berikut:
a. Tes Benar Salah (True-False)
Soal-soalnya
berupa pernyataan-pernyataan. Pernyataan tersebut ada yang benar ada yang
salah. Orang yang ditanya bertugas untuk menandai masing-masing pernyataan
tersebut dengan melingkari (B) untuk pernyataan yang betul menurutnya dan (S)
untuk pernyataan yang salah.
Salah
satu fungsi bentuk soal benar-salah adalah untuk mengukur kemampuan peserta
didik dalam membedakan antara fakta dan pendapat. Agar soal dapat berfungsi
dengan baik, maka materi yang ditanyakan hendaknya homogen dari segi isi.
Bentuk soal seperti ini lebih banyak digunakan untuk mengukur kemampuan
mengidentifikasi informasi berdasarkan hubungan yang sederhana (Arifin,
2009:137).
Contoh:
B-S : Novel Siti Nurbaya ditulis oleh
Marah Rusli
B-S : Datuk Maringgih adalah salah
satu tokoh dalam novel Siti Nurbaya
Beberapa petunjuk praktis dalam menyusun soal benar-salah
menurut Arifin (2009:137) adalah sebagai berikut:
1. Dalam menyusun item bentuk
benar-salah ini hendaknya jumlah item cukup banyak di atas 50 soal, sehingga
dapat dipertanggungjawabkan.
2. Jumlah item yang benar dan salah
hendaknya sama.
3. Berilah petunjuk cara mengerjakan
soal yang jelas dan memakai kalimat yang sederhana.
4. Hindarkan pernyataan yang terlalu
umum, kompleks, dan negatif.
5. Hindarkan penggunaan kata yang dapat
memberi petunjuk tentang jawaban yang dikehendaki. Misalnya: biasanya, umumnya,
selalu.
b. Tes Pilihan Ganda (Multiple Choice
Test)
Tes
pilihan ganda terdiri atas suatu keterangan atau pemberitahuan tentang suatu
pengertian yang belum lengkap. Dan untuk melengkapinya harus memilih satu dari
beberapa kemungkinan jawaban yang telah disediakan. Tes ini terdiri dari
keterangan (stem) dan bagian kemungkinan jawaban atau alternatif (options).
Kemungkinan jawaban terdiri atas satu jawaban yang benar yaitu kunci jawaban
dan beberapa pengecoh (distructor).
Mengenai
jumlah alternatif jawaban sebenarnya tidak ada aturan baku. Guru bisa membuat
3, 4, atau 5 alternatif jawaban. Semakin banyak semakin bagus. Hal ini
dimaksudkan untuk mengurangi faktor menebak (chance of guessing). Adapun
kemampuan yang dapat diukur oleh bentuk soal pilihan ganda antara lain:
mengenal istilah, fakta, prinsip, metode, dan prosedur; mengidentifikasi
penggunaan fakta dan prinsip; menafsirkan hubungan sebab-akibat dan menilai
metode prosedur (Arifin, 2009:138-139).
Berikut
beberapa petunjuk praktis dalam menyusun soal bentuk pilihan-ganda menurut
Arifin (2009:143), yaitu:
1. Harus mengacu pada kompetensi dasar
dan indikator soal.
2. Berilah petunjuk mengerjakannya
dengan jelas.
3. Jangan memasukkan materi soal yang
tidak relevan dengan apa yang sudah dipelajari peserta didik.
4. Pernyataan pada soal seharusnya
merumuskan persoalan yang jelas dan berarti.
5. Pernyataan dan pilihan hendaknya
merupakan kesatuan kalimat yang tidak terputus.
6. Alternatif jawaban harus berfungsi,
homogen dan logis.
7. Panjang pilihan pada suatu soal
hendaknya lebih pendek daripada itemnya.
8. Usahakan agar pernyataan dan pilihan
tidak mudah diasosiasikan.
9. Alternatif jawaban yang betul
hendaknya jangan sistematis
c. Menjodohkan (Matching Test)
Matching
test dapat
diganti dengan istilah mempertandingkan, mencocokkan, memasangkan, atau
menjodohkan. Matching test terdiri atas satu seri pertanyaan
dan satu seri jawaban. Masing-masing pertanyaan mempunyai jawaban yang
tercantum dalam seri jawaban. Tugas murid adalah mencari dan menempatkan
jawaban-jawaban, sehingga sesuai atau cocok dengan pertanyaannya.
Perbedaannya
dengan bentuk pilihan-ganda adalah pilihan-ganda terdiri dari stem dan option,
kemudian peserta didik tinggal memilih salah satu option yang
dianggap paling tepat, sedangkan bentuk menjodohkan terdiri atas kumpulan soal
dan kumpulan jawaban yang keduanya dikumpulkan pada dua kolom yang berbeda.
Jumlah pilihan jawaban dibuat lebih banyak daripada jumlah persoalan.
Bentuk
soal ini sangat baik untuk mengukur kemampuan peserta didik dalam
mengidentifikasi informasi berdasarkan hubungan yang sederhana dan kemampuan
mengidentifikasi kemampuan menghubungkan antara dua hal. Makin banyak hubungan
antara premis dengan respons dibuat, maka makin baik soal yang disajikan
(Arifin, 2009:144).
Untuk menyusun soal bentuk ini, Arifin (2009:145) memberikan
beberapa kriteria, yaitu:
1. Buatlah petunjuk tes dengan jelas,
singkat, dan mudah dipahami.
2. Sesuaikan dengan kompetensi dasar dan
indikator.
3. Kumpulan soal diletakkan di sebelah
kiri, sedangkan jawabannya di sebelah kanan.
4. Jumlah alternatif jawaban hendaknya
lebih banyak daripada jumlah soal.
5. Susunlah item-item dan alternatif
jawaban dengan sistematika tertentu. Misalnya, sebelum pokok persoalan,
didahului dengan stem, atau bisa juga langsung pada pokok
persoalan.
6. Seluruh kelompok soal dan jawaban
hanya terdapat dalam satu halaman.
7. Gunakanlah kalimat yang singkat dan
langsung terarah pada pokok persoalan.
d. Tes Isian (Completion Test)
Completion
test biasa
disebut dengan istilah tes isian, tes menyempurnakan, atau tes melengkapi.
Completion test terdiri atas kalimat-kalimat yang ada bagian-bagiannya yang
dihilangkan. Bagian yang dihilangkan atau yang harus diisi oleh murid ini
merupakan pengertian yang kita minta dari murid.
Untuk
menyusun soal bentuk ini, Arifin (2009:146) memberikan beberapa kriteria,
yaitu:
1. Hendaknya tidak menggunakan soal yang
terbuka, sehingga ada kemungkinan peserta didik menjawab secara terurai.
2. Untuk soal tes bentuk melengkapi
hendaknya tidak mengambil pernyataan langsung dari buku (textbook)
3. Titik-titik kosong sebagai tempat
jawaban hendaknya diletakkan pada akhir atau dekat akhir kalimat daripada pada
awal kalimat.
4. Jangan menyediakan titik-titik kosong
terlalu banyak. Pilihlah untuk masalah yang urgen saja.
5. Pernyataan hendaknya hanya mengandung
satu alternatif jawaban, dan
6. Jika perlu dapat digunakan
gambar-gambar sehingga dapat dipersingkat dan jelas.
2.1.3
Kelemahan dan Kelebihan Tes Objektif
Berikut
adalah kelebihan dan kelemahan tes objektif menurut Arikunto
(2009:164-165).
|
No. |
Kelebihan |
Kelemahan |
|
1 |
Mengandung banyak segi positif,
lebih representatif, dan objektif. |
Membutuhkan persiapan penyusunan
soal yang sulit. |
|
2 |
Pemeriksaan lebih mudah dan cepat. |
Soalnya cenderung mengungkapkan
ingatan dan sukar mengukur proses mental. |
|
3 |
Pemeriksaan dapat diserahkan pada
orang lain. |
Banyak kesempatan untuk main
untung-untungan. |
|
4 |
Tidak memiliki unsur subjektifitas
dalam proses pemeriksaan. |
“Kerja sama” antarsiswa dalam
mengerjakan tes lebih terbuka. |
Lebih lanjut Arikunto (2009:177) mengemukakan beberapa kondisi kapan dan
bagaimana tes objektif ini digunakan
a. Kelompok yang akan dites banyak dan
tesnya akan digunakan berkali-kali.
b. Skor yang diperoleh diperkirakan akan
dapat dipercaya (mempunyai reliabilitas yang tinggi).
c. Guru lebih mampu menyusun tes bentuk
objektif daripada tes bentuk esai.
d. Hanya mempunyai waktu sedikit untuk
koreksi dibandingkan waktu yang digunakan untuk menyusun tes.
2.2
Tes Proyeksi
2.2.1 Pengertian Tes Proyeksi
Proyeksi
adalah suatu istilah yang sekarang ini banyak digunakan dalam psikologi klinis, psikologi dinami
psikologi sosial. Psikologi proyektif merupakan dasar dari berbagai
macam bentuk proyeksi
termasuk tes-tes proyektif yang bersifat verbal maupun non verbal. Istilah
proyeksi pertama kali dikemukakan oleh Freud pada awal-awal tahun 1894
dalam tulisannya “The Anxiety Neurosis"
yang mengatakan bahwa: "Jiwa manusia memilik potensi untuk
mengembangkan kecemasan yang neurotis
disaat dirinya merasa tidak mampu mengatasi rangsang- rangsang atau gairah-gairah seksual. Hal itu seolah-olah telah
memproyeksikan gairah-gairah ini ke
dalam dunia luar".
Pada
tahun 1896 dalam tulisan "On The Defense Neuropsychosis" Freud menyampaikan elaborasi lebih jauh mengenai
konsep proyeksi. Secara eksplisit Freud mengatakan bahwa proyeksi merupakan
proses pelampiasan keluar dorongan-dorongan,
perasaan-perasaan, dan sentimen-sentimen yang ada pada diri individu ke orang lain atau dunia luar
sebagai proses yang sifatnya defensif dan individu tidak menyadari fenomena
yang terjadi pada dirinya ini.
Freud memberi
contoh elaborasi tersebut
melalui kasus Schreber
(penderita paranoid yang memiliki kecenderungan homoseksual). Karena ada tekanan
dari super ego yang tidak memperbolehkan
pria mencintai pria terjadi
reaksi formasi mentransferkan suatu sikap "I
love him" menjadi
"I hate him"
(proyeksi benci yang sebenarnya cinta). "I hate him" masih ada kelanjutannya menjadi
"He hates me".
Konsep
proyeksi Freud ini serupa dengan konsep kompensasi dari Adler (prinsip inferioritas dan kompensasi).
Sejak lahir manusia memiliki kelemahan, namun manusia
tidak putus asa dengan cara melakukan kompensasi untuk menutupi
kelemahan-kelemahannya. Bentuk
kompensasi Adler ini sama dengan proyeksi.
Ahli
lain yaitu Healy, Bronner
dan Brouer (dalam Abt &
Bellak 1959) mendefinisikan istilah proyeksi serupa dengan apa yang
disampaikan oleh Freud yaitu proses defensif di bawah kekuasaan
prinsip kenikmatan. Ego akan
melampiaskan terus menerus
dorongan-dorongan dan keinginan-keinginan yang tidak disadari ke dunia luar, karena bila muncul dalam kesadaran akan menyakitkan dan membuat ego menjadi tercela.
Untuk itu orang melakukan proyeksi.
Dari
pengertian Freud maupun Healy, Bronner dan Brouer dapat dikatakan bahwa proyeksi merupakan
bentuk mekanisme pertahanan diri. (misalnya Psikologi
Dalam) mengatakan bahwa mekanisme pertahanan diri atau proses defensif yang paling banyak dilakukan manusia
adalah proyeksi. Seorang
ahli yang bernama berkomentar
bahwa proyeksi memang proses defensif yang penting dan paling banyak dilakukan manusia
tetapi dari seluruh
teori psikoanalisis, proyeksi
merupakan suatu istilah
yang paling tidak dapat didefinisikan secara jelas.
Beberapa tulisan mengenai proyeksi hanya terbatas dalam konteks klinis- psikoanalisis dan akademis.
Pada dasarnya
memang tidak banyak
ahli yang memberikan pengertian atau definisi mengenai
proyeksi. Oleh karena itu pengertiannya pun menjadi terbatas.
Freud sebagai ahli pertama yang memberikan pengertian konsep proyeksi lebih memfokuskan pada bidang klinis
karena sesuai dengan
asal usulnya Freud memang
banyak menemukan gejala perilaku proyeksi dari kasus- kasus klinis yaitu psikosa dan neurosa. Pada akhirnya konsep
proyeksi menjadi paling banyak dipakai pada bidang-bidang klinis.
Oleh karena itu dalam menganalisis perilaku proyeksi biasanya
mengarah pada hal- hal yang bersifat klinis atau abnormal. Namun demikian sebenarnya
konsep proyeksi dapat pula diterapkan dalam bidang Psikologi
Industri, Psikologi Pendidikan, Psikologi Sosial maupun Psikologi Perkembangan. Misalnya dalam psikologi
perkembangan hasil penelitian Margareth Mead menunjukkan bahwa perilaku atau kehidupan psikis anak merupakan
proyeksi dari masyarakat dimana anak itu hidup.
Meskipun pada awal kemunculannya proyeksi selalu dikaitkan
dengan psikosis dan neurosis, lebih lanjut Freud mengatakan bahwa proyeksi dapat diterapkan
pada bentuk-bentuk perilaku lain yang lebih luas misalnya timbulnya kepercayaan-kepercayaan tertentu
pada masyarakat, berbagai
macam bentuk-bentuk kesenian
dan hal-hal yang bersifat religius yang kesemuanya ini dasarnya adalah proyeksi. Dalam hal ini, proyeksi
masih dipandang sebagai suatu proses defensif untuk melawan kecemasan.
2.2.2
Dasar-Dasar Terjadinya Proyeksi
Dari pernyataan-pernyataan para ahli mengenai proyeksi dapat dikatakan
ada tiga hal yang mendasari
terjadinya proyeksi yaitu :
a.
Dasar mekanisme penolakan Individu
ingin meringankan beban
psikis yang ada dalam dirinya
kemudian dimanifestasikan dalam
perbuatannya dan perbuatan
itu menolak keinginan-keinginan yang sudah ada
b. Usaha
pendekatan Yaitu
usaha
yang
dilakukan individu untuk mengembalikan hubungan
yang sebenarnya sudah putus lalu berusaha mendekati kembali supaya hubungan terjadi lagi.
c. Hubungan antara subyek dan obyek yang merupakan satu kesatuan..
2.2.3
BEBERAPA PANDANGAN TENTANG PROYEKSI
Beberapa pandangan secara umum tentang proyeksi yaitu;
a.
Proyeksi adalah setiap pengamatan yang normal yang berujud pemindahan, penghayatan dari seseorang
ke dunia luar yang kemudian
mempengaruhi proses pengamatan
individu terhadap proses yang diamati.
b. Proyeksi
merupakan gejala -gejala yang mengarah ke halusinasi. Dalam proyeksi dapat terjadi sesuatu yang ada
pada individu dipindahkan ke luar tapi dalam realita apa yang diamati
itu tidak ada.
Proyeksi juga mengarah pada ilusi yaitu dunia pengamatan individu dilibatkan
dan diorganisasir berdasar prinsip-prinsip afek. Jadi pengamatan pada dunia luar dipengaruhi harapan-
harapannya menurut caranya
sendiri.
2.2.4 Perkembangan Psikologi Proyektif
Pada awal kemunculannya, Psikologi
proyektif menentang aliran-aliran yang telah berkembang
sebelumnya yaitu:
a.
Aliran strukturalisme yang memandang individu
sebagai kumpulan bagian-
bagian Aliran asosiasi
yang memandang individu
sebagai kumpulan
b.
Tanggapan-tanggapan Aliran behaviorisme yang memandang individu
sebagai
c.
Kumpulan tingkah laku Aliran reflexologi yang memandang individu
sebagai kumpulan rekasi-reaksi bersyarat.
Psikologi proyektif
sendiri dalam perkembangannya banyak dipengaruhi oleh konsep-konsep Psikologi Gestalt dan
Psikologi Belajar, serta yang terutama adalah konsep-konsep Psikoanalisa. Tentu saja dalam memandang
kepribadian individu Psikologi
proyektif lebih banyak mendasarkan pada konsep Psikoanalisa.
Pada masa perkembangan
Psikologi proyektif, memang muncul dua cara pandang yang berbeda dalam memahami kepribadian individu. Kedua cara pandang tersebut
adalah :
a.
Cara pandang
Behavioristis Banyak dipengaruhi oleh aliran-aliran non psikoanalisa
(non psikologi dalam), dan yang paling dominan adalah aliran Gestalt
4.
b.
Cara
pandang Fungsional Bertentangan dengan Behavioristis; lebih banyak dipengaruhi oleh aliran Psikologi Dalam atau Psikoanalisa
Menurut Northrop
ada empat perbedaan
antara cara Behavioristis dengan cara Fungsional dalam memahami kepribadian individu yaitu :
|
Behavioristis |
Fungsional |
|
Hanya memperhatikan gejala-gejala
yang tampak |
Lebih memperhatikan hal-hal yang
internal (tidak disadari) |
|
Dalam melihat dinamika kepribadian
memperhatikan hubungan antara gejala-gejala yang tampak |
Memperhatikan hal internal sebagai
pengatur dinamika kepribadian |
|
Gejala-gejala yang tampak sebagai
kumpulan dari berbagai macam tingkah laku |
Memperhatikan bagaimana individu
memproyeksikan bagian-bagian yang tidak disadari dengan cara mengemukakan
psikodinamikanya |
|
Dalam mengungkapkan aspek-aspek
psikologis mengguakan teknik-teknik non proyektif |
Dalam mengungkap aspek-aspek
psikologis menggunakan tenik-teknik proyektif |
Lebih jauh,
meski utamanya Psikologi Proyektif kental dipengaruhi oleh aliran Psikoanalisa namun Psikologi Proyektif
memiliki cara pandang
sendiri dalam memahami kepribadian individu yaitu :
1.
Kepribadian dipandang
sebagai proses bukan sekedar koleksi
atau kumpulan dari aspek-aspek kepribadian.
2.
Kepribadian
yang banyak diungkap dengan menggunakan teknik proyektif merupakan interaksi antara apa yang ada di dalam individu
dengan lingkungannya.
2.2.5
Eksperimen Bellak
Mengenai Fenomena Proyeksi
Sebelum eksperimen mengenai
proyeksi yang dilakukan
Bellak, ialah proyeksi sudah dianggap telah
terdefinisikan dengan baik. istinai pada akhirnya munculah suatu pengetahuan baru mengenai Sampn proyeksi setelah
eksperimen dari Bellak. Bellak adalah
konekg ahli yang tertarik untuk mengetahui lebih lanjut mengenai tenomena proyeksi.
Eksperimennya adalah sebagai berikut:
Eksperimen pertama, beberapa
subyek ditunjukkan sejumlah
tatu TAT.dalam keadaan
sadariterkontrol. Setelah itu (sebagai eksperimen kedua) subyek dikenai post hipnosa dibawa dalam kondisi agresif
tanpa subyek menyadarinya dan
kemudiab diminta untuk menceritakan gambar- gambar
dari kartu-kartu TAT. Hasilnya subyek menunjukkan peningkatan dalam sikap agresifnya ketika menceritakan kartu-kartu dibanding eksperimen
yang pertama. Hasil serupa juga ditunjukkan pada saat subyek dibuat merasa sedih dan tidak bahagia dalam post hipnosa; subyek tampak memproyeksikan kesedihan dan
perasaan-perasaan tidak bahagianya saat bercerita melalui
kartu TAT.
Sampai
eksperimen ini tidak ada perubahan mengenai pengertian proyeksi yaitu proses pelampiasan keluar
sentimen-sentimen atau dorongan-dorongan yang
tidak dapat diterima ego apabila sampai muncul keluar. Jadi
pengertiannya masih dalam konteks mekanisme pertahanan diri.
Lebih jauh, Bellak melakukan eksperimen lanjutan untuk melihat
fenomena proyeksi yaitu:
Sejumlah subyek ditunjukkan sejumlah kartu TAT kembali namun pada saat
post hipnosa subyek dibuat merasa sangat gembira. Ternyata subyek juga memproyeksikan rasa gembiranya ketika
bercerita melalui kartu-kartu yang ditunjukkan kepadanya.
Dari hasil eksperimen ini konsep proyeksi yang selama ini selalu dikaitkan dengan mekanisme pertahanan diri mulai
goyah. Ternyata individu dalam keadaan tidak sedih, tertekan, atau konflik pun pun juga menunjukkan peningkatan semangat atau intensitas dalam bercerita. Jadi melalui eksperimen lanjutan ini dapat dikatakan
bahwa proyeksi bukan semata-mata bentuk mekanisme pertahanan diri.
Freud mengatakan bahwa:
"Proyeksi bukanlah
secara khusus terwujud untuk mengadakan pertahanan diri karena individu yang sedang
tidak dalam keadaan konflik
pun dapat juga melakukan
proyeksi. Proyeksi dari inner perceptions terhadap dunia luar tersebut adalah suatu mekanisme primitif yang juga
mempengaruhi persepsi kita, dan hal
tersebut merupakan bagian yang paling besar dalam membentuk dunia luar kita. Inner perception adalah persepsi masa lalu yang mempunyai pengaruh
besar dalam membentuk
dunia luar. Dalam kondisi yang diliputi ketidakpastian inner perception yang merupakan proses-proses ideasional (lamunan, bayangan)
maupun emosional, seperti halnya sense perceptions, diproyeksikan ke luar dan digunakan untuk membentuk dunia luar dimana hal
tersebut semestinya dunianya sendiri" tetap berada.
Lebih lanjut Freud juga menjelaskan bahwa:
"Sesuatu yang diproyeksikan keluar dapat berubah
bentuknya menjadi sesuatu
yang lain. Bentuk
ini yang mengetahui hanya individu itu sendiri dan sebenarnya bersifat
latent yang dapat muncul kembali
bila ada rangsangan yang dikatakan sebagai
ko-eksistensi persepsi dan memori. Bila hal ini digeneralisasi disebut
sebagai eksistensi proses ketidaksadaran jiwa vang muncul
dalam kesadaran".
Dasar pemikiran
tersebut sebenarnya menjelaskan bahwa ingatan masa lalu
(perception memory) akan mempengaruhi persepsi yang sekarang (persepsi terhadap
stimulus yang diterima). Pada semua tes proyektif prinsipnya adalah mengungkap persepsi
masa lalu. Misalnya
interpretasi dari Thematic
Apperception Test (TAT) sesungguhnya didasarkan pada asumsi tersebut.
Persespi subyek pada masa lalu mengenai
ayahnya akan mempengaruhi persepsinya yang sekarang
mengenai ayah saat mersepon figure ayah dalam kartu-kartu TAT. Dari eksperimen klinisnya Bellak juga menemukan bahwa perilaku dari perilaku ekprerimenter dapat memunculkan sentimen-sentimen yang berkaitan dengan
figur ayah dan tidak semata-mata untuk maksud pertahanan diri.
2.2.6 Pengetian Teknik Proyeksi
Teknik proyeksi
merupakan suatu alat yang memungkinkan untuk mengungkap
motif, nilai, keadaan emosi, need yang sukar diungkap dalam situasi wajar dengan cara individu memproyeksikan pribadinya melalui
obyek di luar individu.
Secara garis besar tes proyeksi dibagi dua kelompok
yaitu :
a. Verbal : Baik materi,
komunikasi antara testee
dengan tester dan respon subyek berujud verbal (lisan maupun tulisan).
b. Non
verbal: Wujud materi bukan dalam bentuk bahasa. Faktor bahasa
hanya berperan untuk komunikasi antara testee dengan tester.
Sedangkan
kelebihan atau nilai dari tes proyekif adalah: banyak bidang yang dapat digunakan
sebagai materi tes proyektif misalnya
pohon, orang, rumah dan sebagainya. Suatu teknik atau tes dikatakan bersifat
apabila memiliki prinsip
dasar atau ciri- ciri
tertentu. Prinsip dasar dari tes/teknis proyeksi adalah:
a. Stimulusnya bersifat todak berstruktur yang memungkinkan subyek mempunyai alternatif pilihan yang banyak.
b. Stimulusnya bersifat ambigous yang memungkinkan subyek
merespon stimulus/materi tes sesuai dengan interpretasinya masing-masing.
c. Stimulusnya bersifat kurang mempunyai
obyektifitas relatif Sifat ini
memudahkan untuk mendapatkan individual differ. ences karena masing- masing subyek memiliki
kesimpulan yang berbeda-beda dalam mengamati
stimulus yang dihadapkan padanya.
d. Global approach yang artinya menuntut
kesimpulan yang luas Sifat-sifat tersebut di atas, (terutama
ciri pertama dan kedua) memungkinkan individu memproyeksikan need, emosi, motif dan isi ketidaksadaran lainnya.
Di samping
ciri-ciri di atas ada ciri-ciri lain dari teknik proyektif yang mungkin
hanya dimiliki oleh beberapa tes proyektif saja contohnya TAT. Ciri-ciri tersebut
adalah:
a. Polivalensi yaitu mempunyai banyak kemungkinan Kartu-kartu dalam TAT terdiri
dari berbagai kemungkinan/ situasi,
yaitu:
1) Figur jelas - latar belakang kabur
2) Latar belakang kabur - figur jelas
3) Figur jelas - latar belakang jelas
4) Figur kabur - latar belakang kabur
b. Polisemi yaitu salah satu jelas atau salah satu kabur Maksudnya, bisa figurnya yang jelas namun latar belakangnya kabur atau sebaliknya. Dalam merespon subyek harus dibuat kabur mengidentifikasi/membuat kepastian
pada stimulus/ materi yang dibuat kabur.
c. Monosemi yaitu
baik figur maupun latar belakang kedua- duanya relatif jelas Hal ini memungkinkan untuk didapatkannya respon yang
relatif sama dari para subyek.
d. Asemi yaitu baik figur maupun latar belakang
kedua-duanya kabur. Stimulus/materi demikian diyakini lebih mampu mengungkap ketidaksadaran.
2.2.7
Klasifikasi Tes Proyektif
a.
Menurut L.K Frank
Klasifikasi L.K Frank merupakan klasifikasi yang paling banyak diterima dasar pengklasifikasikan merupakan
sifat respon subjek.
Klasifikasinya adalah sebagai berikut :
1)
Teknik Konstituitif (menyusun)
Subjek diberikan materi yang belum terstruktur, dan kemudian diminta
untuk memberi struktur.
Contohnya, Tes Wartegg,
Tes Rosarch, Tes Finger Print
2)
Teknik Konstruktif (membentuk)
Subjek diberikan materi yang belum berbentuk, kemudian diminta membentuk
bedanya teknik konstituitif, teknik konstruktif materinya lebih mentah dan lebih “free expression” bagi subjek.
3)
Tektik Interpretatif (menginterpretasi)
Subjek diberikan materi kemudian diminta
menginterpretasi, Contoh dari tesnya yakni TAT,CAT, Word Association Test (SSCT).
4)
Teknik Katarik
Tujuan atau fungsi dari teknik ini yakni ketika subjek merespon akan terjadi pengurangan hambatan-hambatan
psikis. Contoh dari tesnya yakni : Play Technique (bermain, psikodrama),
Lowenfeld Mozaic.
5)
Teknik Refratik/Ekspresif ( tambahan
dari SYMOND)
Subjek diberikan materi/
stimulus, kemudian subjek
diminta mengekspresikan need,
sentimen dan lain sebagaunya yang ada
padanya. Contoh tesnya adalah: Tes grafis, grafologi, tes bender gestalt,
Myokenetic Diagnosis.
b. Menurut Lindzey
Dasar dari pengklasifikasian dari Lindzey yakni tipe dari jawaban subjek. Klasifikasinya terbagi menjadi :
1) Teknik Asosiasi
Subjek diberikan
materi kemudian diminta
untuk merespon dengan cara mengeluarkan penyampaian yang pertama
kali muncul dalam pikiran atas stimulus tersebut. Contoh tes : Tes Rosarch,SSCT
2) Teknik Konstruktif
Subjek diminta menyusun
materi yang belum berbentuk menjadi sebuah
cerita/gambar , dan fokus pada hasil subjek. Contohnya: TAT,CAT<dan subtest yang mengatur gambar (WAIS)
3) Teknik Melengkapi
Subjek diberikan
materi yang belum lengkap dan kemudian diminta untuk melengkapinya. Contoh : SSCT
4) Teknik Mengatur
Subjek diberikan materi/
soal yang memiliki alternatif jawaban yang sesuai dengan dirinya
atau membuat urutan atas dasar pilihan jawaban
yang ada. Contoh:
Study of Value, Survey Interpersonal
Value, tes-tes mengukur
kreativitas
5) Teknik Ekspresif
Hampir mirip dengan
teknik konstruksi, hanya saja materi harus dibentuk
dengan sifat yang lebih mentah, dan fokusnya pada cara subjek menyelesaikan materi.
Contoh: Finger Printing Test Project Therapy,
Achivement, Motivation Training
(AMT).
2.2.8
Isu-Isu Tes Proyektif
Pada beberapa hal teknik proyektif
mempunyai kelebihan dan kekurangan, antara
lain (Anastasi,1982):
a. Rapport dan Keleluasaan Pengguna
Sebagian
besar teknik proyektif dapat berfungsi sebagai ice breaker
selama terjadinya hubungan
antara tester dan testi. Tugas-tugas menarik dan tidak membosankan, bahkan seringkali bersifat
menghibur.
b. Faking
Pada umumnya teknik proyektif dapat terhindar dari kecendrungan
terjadinya faking, dibandingkan
dengan self raport. Tujuan dari
teknik proyektif seringkali kabur dan sulit ditebak, bahkan teknik proyektif yang sudah sangat dikenal
seperti Rosarch dan TAT. Testi lebih memikirkan respon apa yang akan dibuat,
daripada menebak tujuan dari tes itu sendiri.
c. Variabel Tester dan Situasi
Sudah
dijelaskan bahwa sebagian besar teknik proyektif lemah dalam standarisasi baik administrasu maupun skoringnya. Oleh karena itu, untuk hasil yang akurat faktor tester dan situasi
tes menjadi sangat penting.
d. Norma
Kelemahan
dari teknik proyektif adalah data normatif. Sejumlah data mungkin sangat kurang , tidak adekuat atau
meragukan. Hal ini juga akan berpengaruh pada objektifitas interpretasi.
e. Realibilitas
Sebuah teknik,
seperti ha1nya teknik proyektif yang dianggap mempunyai
prosedur skoring yang relatif
kurang terstandar, skoring
objektif, realibilitas skorer tidak sekedar memberikan skoring objektif, tetapi juga merupakan
tahap skorermemberikan integrasi
dan interpretasi secara
lengkap.
f. Validitas
Studi tentang
validitas teknik proyektif yang banyak dilakukan
adalah concurrent criterion-related validity. Dengan cara membandingkan
performansi dari kelompok-kelompok kontras, dengan menggunakan alat ukur lain yang mengungkapkan hal yang sama.
2.2.9 Jenis Tes Proyektif
Bentuk-bentuk tes priyektif
adalah
·
Teknik ink blok disebut
dengan tinta pada tes Roschach.
·
Teknik pictorial berupa
tes dalam bentuk gambar seperti
TAT,CAT, dan SAT
·
Verbal, tes ini ditampilkan dalam bentuk asosiasi
kata dan sentence
completion
·
Autobiography, yaitu dalam bentuk diary atau pengalaman sehari hari yang dilakukukan.
·
Teknik performance, yaitu menggambar seperti pada tes HTP, DAM, BAUM
Secara umun tes proyektif
dibagi dua bagian
besar yaitu bersifat
verbal dan non verbal.
Contoh tes
proyektif yang bersifat verbal adalah :
a. EPPS
(Edward Personnal Preference Schedule)
Tes
kepribadian yang dikategorikan
sebagai pawer tes yaitu tes yang tidak dibatasi waktu dalam pengerjaannya. Tes EPPS bertujuan
untuk mengungkapkan 15 need yang ada pada diri seseorang. Bentuk tes EPPS berupa pasangan-pasangan satu pernyataan
berjumlah 225 pasang. Dari 225 pasang pernyataan
ada 15 pasang yang sama.
b. SSCT
(Sacks Sentences Completion Test)
Tes
proyektif yang menggunakan bahasa dan bersifat asosiasi. Bentuknya berupa kalimat-kalimat yang belum lengkap
sejumlah 60 item.
Tugas subjek adalah melengkapi kalimat-kalimat yang
belum lengkap tersebut secara spontan
dengan apa yang pertama kali muncul dalam pikiranya. Tujuan tes SSCT ini untuk mengungkap
kegagalan-kegagalan penyesuaian diri. Adapun aspek yang di
ungkap yaitu:
•
Sikap subjek terhadap keluaga
•
Sikap subjek terhadap seks
•
Sikap subjek terhadap hubungan
interpersonal
•
Sikap subjek terhadap konsep diri
c.
MMPI `(Minnesota Multiplechoice Personality Inventory)
Kegunaan dari tes MMPI adalah
untuk menagani kasus-kasus klinis seperti hypocondria, depresi, histeria, psikopat,
schizoprenia, hypomania,femininitas dan maskulinitas. Bentuk tes MMPI berupa pernyataan –pernyataan yang harus direspon
testee sesuai dengan keadaan yang ada pada dirinya.
Ada 566 item, tiap item hanya aa 1 pernyataan.
d.
Kuder
Kegunaan tes ini adalah untuk megetahui minat/kesenangan dalam berbagai
pekerjaan, biasanya untuk kasus-kasus pekerjaan seperti misalnya seleksi
karyawan. Item dalam tes kuder berjumlah
168 item, tiap item berisi
3 option.
e.
Study Of Value
Study of value pertama kali dikemukakan oleh allport, vernon dan lindzey. Kegunaan dari study of value adalah untuk
megetahui nilai-nilai apa yang dominan
pada diri seseorang, didasarkan atas 6 kepribadian spanger yaitu; nilai ekonomis, teoritis,
estetis, sosial, politik,
agama. Item tes dikelompokan
menjadi 2 bagian. Bagian 1 terdiri dari
30 item dan bagian ke 2 terdiri
dari 15 item.
Contoh tes proyektif
yang bersifat verbal adalah:
a.
TAT (Thematic Aperception Test)
Tes ini merupakan tes daya khayal (suatu bentuk tes kecerdasan), terdiri
31 kartu yang dikelompokkan dalam
beberapa yaitu netral, boy (B), girl (G), female (F), male
(M). TAT dapat dikenakan untuk subjek dengan usia minimalempat tahun.kartu yang disajiak cukup 20 kartu, dipilih berdasarkan atas tingkat usia dari
permsalahan subjek.
b.
CAT (Children Aperception Test)
CAT merupakan pengembangan dari TAT, dikembangkan oleh bellak (leopold
bellak) dan sonya sorel bellak.
Menurut bellak stimulus
kartu TAT tidak cocok untuk
anak-anak, mak dikembangkan tes mirip dgn TAT
dengan stimulus yang lebih mudah di respon anak-anak yaitu berfigur binatang
dan suasananya pun khas anak-anak
dan di adptasikan sesuai figur budaya indonesia. CAT dapat
dikenakan pada anak usia 3 sampai 10 tahun.
c.
CATH (Children Aperception Test-Human)
Stimulus CATH sama dengan CAT hanya saja figur-figurnya merupakan figur manusia yang jenis kelaminnya tidak jelas (ambiguous). Suasana setiap figur tetap sama dengan CAT yaitu suasana
kehidupan anak. Perbedaan
stimulus hanya karena perbedaan dasar teori.
d.
CATS (Children Aperception Test Supplement)
CATS fungsinya sebagai
pelengkap CAT, dipergunkan untuk menggali data tambahan. Oleh karena itu CATS biasanya
hanya digunakan untuk kasus-kasus yang sudah jelas masalahnya. Misalnya
masalah subjek berjaitan dengan masalah kebersihan dalam memberikan kartu CATS langsung
dipilih kartu-kartu y agn relevan.
e.
FAT (Family Aperception Test)
Kegunaan tes ini adalah untuk mengungkapkan problem-
problem perkembangan anak
maupun emosi anak. FAT dapat dirgunakan untuk nak usia 3 sampai 10 tahun. Apabila dengan CAT dapat diungkap sampai lingkungan sosialnya.
FAT ada 7 (0 sampai 6) dengan figuran.
f.
SAT (Senior Aperception Technique)
SAT merupakan pengembangan dari TAT. SAT untuk orang-orang yang sudah tua (manusia) yang berusia lebih
dari 65 tahun. Jumlah kartu ada 16 kartu. Hal-hal yang diungkap dalam tes ini adalah;
·
Kemarahan-kemarahan yang dimiliki/dipendam pada masa muda sampai tua.
·
Rasa ketidak berdayaan diri
·
Penyesuaian diri; apakan masih semangat atau tidak.
·
Ketakutan-ketakutan yang berarti, misalnya
merasa tak berati
karena mengahadapi masa
pensiun
·
Ketakutan untuk terluka, misalnya
ketakutan diabaikan anaknya
·
Pendapatnya tentang kaum muda
g.
GPPT (Group Personality Projective
Test)
Awalnya GPPT digunakan
untuk menentukan kecemasan. Namun lebih lanjut
GPPT digunakan untuk mengetahui seberapa
jauh kebutuhan psikologis seseorang bisa muncul dalam kehidupan
manusia atau perilakunya. Ada 15 need yang diungkap oleh GPPT yang secra garis besar
dikelompokkan menjadi tiga yaitu personal needs, sosial needs, dan emotional
needs.
h. Tes Szondy
Kegunaan tes ini adalah untuk mengungkap dinamika kepribadian testee, untuk mengetahui struktur
daerah kepribadian testee,
dan untuk mengetahui aspek dinamis dari kepribadian testee.
Contoh tes proyektif
yang bersifat verbal adalah:
a.
Tes grafis ( grafologi,
Baum, DAM, HTP)
Tes grafis disebut
juga sebagai paper and pencil test karena hanya melibatkan 2 bahan tersebut dan dianggap sebagai
tes yang sederhana dan murah, Sederhana karena tugas yang diberikan tidak rumit, mudah dimengerti subyek dan waktu pengerjaan tidak lama dan Murah karena
hanya melibatkan beberapa lembar kerja, HVS 70gr ukuran
A4 dan sebatang pinsil HB. Tes grafis
yang umum dikenal sebenarnya terdiri dari empat alat tes yang berdiri terpisah. Mereka adalah BAUM, Draw A
Person (DAP), House Tree Person (HTP), dan Drawing Completion
Tes (DCT). Salah satu dari tes grafis yang pertama :
·
Tes BAUM
Merupakan sebuah tes psikologi yang digunakan untuk evaluasi kepribadian individu dengan cara meminta individu untuk menggambar pohon.
Gambar yang dibentuk oleh individu
memiliki kesamaan aspek yang menjadi ciri khas individu tersebut seperti
ukuran, garis, atau letak.
Tes ini dapat digunakan pada individu
normal, anak-anak, dewasa,
orang tua, untuk orang umum pada orang yang mengalami
patologi seperti pasien schizophrein, orang-orang yang mengalami gangguan mental dan kognitif.
· Tes
HTP
Tes HTP (House tree
Person) umumnya memiliki tujuan untuk mengukur
keseluruhan pribadi. Waktu yang dipergunakan dalam tes Psikologi
HTP normalnya selama 10 menit.
Beberapa alasan digunakannya tes HTP sama seperti tes DAP dan BAUM, yaitu:
· Karena ketiga objek tersebut
paling dikenal oleh orang
· Hampir semua orang tak menentang diminta
menggambar House Tree Person
· Dibandingkan dengan objek lain, objek yang lebih dapat menstimulir verbalisasi yang sifatya jujur dan bebas.
· TES
DAP
DAP atau Draw a Person
adalah salah satu jenis psikotes
menggambar. Tes ini mudah
diinterpretasikan dan banyak digunakan di berbagai negara karena tidak ada hambatan bahasa,
hambatan budaya dan komunikasi antara
penguji dan peserta tes. Biasannya, DAP digunakan dalam berbagai tujuan sehingga bersifat
universal.
b.
TES wartegg
Tes Wartegg merupakan salah satu asesmen tes psikologi yang digunakan untuk evaluasi kepribadian (personality assessment). Tes ini adalah tes proyektif
yang merupakan kombinasi
dari teknik completions dan expressions karena telah memiliki
stimulus-stimulus yang perlu diselesaikan dengan mengekspresikan suatu gambar (nieizel
& bemstein,1987). Teknik proyektif dalam tes wartegg
adalah teknik konstitutif yaitu subjek diberikan
materi yang belum berstuktur, yang kemudian
subjek diminta untuk memberi struktur (Frank, dalam Karmiyati & Suryaningrum, 2008).
Tes Wartegg dikembangkan pada tahun 1920 dan 1930-an.
Tes Wartegg merupakan tes yang berakar
dari psikoanalisis dan psikologi Gestalt
(Roivainen, 2009). Psikologi Gestalt berasumsi bahwa keseluruhan terdiri dari bagian-bagian dan bagian-bagian adalah keseluruhan, bahwa
objek atau gambar dalam tes
wartegg adalah sebuah kesatuan yang merupakan
cerminan dari pengalaman seseorang yang menggambar.
·
Goodenough harris drawing test
Dapat dikenakan pada anak-anak(mulai dari usia 3 tahun ) dan orang dewasa. Kegunaan
dari tes ini adalah untuk mengukur kemasakan
intelektual. Bentuk berupa mengfigur tiga: figur laki-laki figur wanita dan figur diri sendiri.
·
VMI (Visual motoric integration
Dapat dikenakan untuk anak-anak pra sekolah dan SD serta anak-anak sekolah
luar biasa namun tidak bisa digunakan sebagai
terapi. Kegunaan dari tes VMI untuk memahami
terjadinya hambatan-hambatan dalam belajar dan aspek yang dinilai adalah tingkat kemasakan
visual motorik anak yang berupa presepsi dan kordinasi motorik
tes ini bersifat “culture fair” atau bebas budaya.
·
Bender gestalt
Dipublikasikan pertama kali oleh lauretta benner pada tahun 1938. Tes ini memiliki kemiripan dengan tes VMI, namun
kelebihannya dari tes bender gestalt
adalah dapat mengungkapkan kerusakan fungsi otak dan gangguan emosi, tes ini juga dikenakan
pada anak-anak maupun orang dewasa. Kegunaan tes ini dengan subjek anak-anak
adalah :
·
Untuk mengukur intelegensi
·
Sebagai tes kesiapan sekolah(dilihat dari kemasakan visual motorikny)
·
Untuk mendeteksi kesulitan dalam mempelajari aritmatika.
Contoh tes proyektif yang bersifat non verbal bercak tinta adalah
a. Tes roschach
Tes roscshach merupakan
tes bercak tinta dan tes proyektif yang paling
populer karena mampu mengungkapkan kepribadian secara utuh yang meliputi aspek intelektual (kapasitas dan
efesiensinya)emosi dan fungsi ego. Tes ini dikembangkan hermann roschach pada tahun 1921 dan merupakan
tes bercak tinta yang pertama
kali. Tes ini dapat mengukapkan berbagai macam gejala piskiatri/klinis. Tes rorschach mengunakan sepuluh gambar dari bercak
tinta, karena itu kadang tes ini dinamakan tes bercak tinta(inkbold).
b. HIT
(holtzman inkblot technique)
Diciptakan untuk menyempurnakan tes roschach. Dalam tes ini tidak dapat banyak yang dapat di respon dari
kartunya yang dimana subjek diperkenankan hanya merespon satu saja untuk setiap kartu.
Dari hal tersebut agar terlebih
terstandar. Materi HIT berupa kartu-kartu yang berisi bercak
tinta yang simetris dan yang tidak
simetris serta terbagi menjadi dua seri, setiap seri berisi 47
kartu dari 45 kartu utama dan dua kartu percobaan.
BAB III
KESIMPULAN
3.1
Kesimpulan
3.2
Saran
DAFTAR PUSTAKA
Bellak, L. (1999). Handbook
Of Psychological Assessment. (3rd Ed).USA: John Wiley &Sons,Inc
Karmiyati, D. & Suryaningrum, C.( 2008). Pengantar Psikologi Proyektif. Ed 2. Malang: UMM Press
Contoh tes proyektif
non verbal yang berupa
bercak tinta adalah
Komentar
Posting Komentar