ALAT DIAGNOSTIK KEPRIBADIAN OBYEKTIF DAN PROYEKTIF

 

ALAT DIAGNOSTIK KEPRIBADIAN OBYEKTIF DAN PROYEKTIF

 

Disusun untuk memenuhi tugas

Mata Kuliah : Pengantar Psikodiagnosis dan Assesment


 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Oleh :

KELOMPOK 2

 

FAKULTAS PSIKOLOGI

UNIVERSITAS MEDAN AREA

2022


 

KATA PENGANTAR

 

Kami ucapkan puji syukur kepada Allah SWT yang telah melimpahkan segala rahmatnya sehinga makalah ini bisa diselesaikan dengan baik. Penyusunan makalah ini tidak bisa diselesaikan dengan baik tanpa bantuan dari banyak pihak. Kami juga mengucapkan terima kasih kepada Bapak Khairil Fauzan, M.Psi yang telah memberikan tugas ini kepada kami. Ada banyak hal yang bisa kami pelajari melalui penelitian dalam makalah ini.

Makalah berjudul “Alat Diagnostik Kepribadian Obyektif dan Proyektif” disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Pengantar Psikodiagnostik dna Assesment.  Selain itu, makalah ini juga diharapkan bisa memberikan sudut pandang baru tentang alat ukur diagnostik. Setelah berhasil menyelesaikan makalah ini, kami berharap apa yang sudah kami paparkan bisa bermanfaat untuk orang lain. Jika ada kritik dan saran terkait ide tulisan maupun penyusunannya, kami akan menerimanya dengan senang hati.

 

Medan,          Mei 2022

 

 

 

 

Kelompok 1

 


 

DAFTAR ISI

 

Kata Pengantar.............................................................................................. i

DAFTAR ISI................................................................................................. ii

BAB I PENDAHULUAN............................................................................. 1

1.1  Latar Belakang Masalah....................................................................

1.2  Rumusan Masalah.............................................................................

1.3  Tujuan Penulisan...............................................................................

BAB II PEMBAHASAN..............................................................................

2.1  Tes Objektif.......................................................................................

2.2  Tes Proyeksi......................................................................................

DAFTAR PUSTAKA....................................................................................


BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1  Latar Belakang Masalah

Psikologi adalah ilmu yang mengkaji tentang manusia dan sifat yang terdapat didalamnya. Psikologi selalu mengalami kemajuan di dalam proses pengembangan cakupan ilmunya. Ilmu psikologi ini selalu meneliti manusia dan berbagai aspek yang ada di dalamnya, baik itu mengenai kejiwaan, minat, bakat, kemampuan, dan berbagai hal lainnya.

Untuk mendapatkan hasil yang baik dan jelas, maka di dalm ilmu psikologi sering kali dilakukan beragam rangkaian tes yang akan menunjukkan suatu hasil melalui angka atau pun diagram hasil tes yang jelas. Hasil ini nantinya akan menjadi tolak ukur untuk menjelaskan berbagai hal yang berhubungan dengan objek kajian yang sedang diteliti. Berikut akan dijelaskan mengenai tes pengukuran psikologi.

 

1.2  Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka rumusan masalah dalam makalah ini dapat digambarkan sebaagi berikut.

1.2.1      Bagaimana tes objektif?

1.2.2      Bagaimana tes proyeksi?

 

1.3  Tujuan Penulisan

Tujuan penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:

1.3.1      Untuk mengetahui tes objektif

1.3.2      Untuk mengetahui tes proyeksi         

 


 

BAB II

PEMBAHASAN

2.1           Tes Objektif

2.1.1               Pengertian Tes Objektif

Tes objektif adalah tes yang dalam pemeriksaannya dapat dilakukan secara objektif. Hal ini memang dimaksudkan untuk mengatasi kelemahan-kelemahan dari tes bentuk esai. Dalam penggunaan tes objektif ini jumlah soal yang diajukan jauh lebih banyak daripada tes esai kadang-kadang untuk tes yang berlangsung selama 60 menit dapat diberikan 30-40 soal (Arikunto, 2009:164). Sementara itu menurut Hidayat, dkk. (1994:63) tes objektif adalah tes yang terdiri dari item-item (stem) yang dapat dijawab dengan jalan memilih salah satu alternatif (option) yang benar dan alternatif yang tersedia atau mengisi jawaban yang benar dengan beberapa kata atau sandi. 

Tes objektif sering juga disebut tes dikotomi (dichotomously scored item) karena jawabannya antara benar atau salah dan skornya antara 1 atau 0. Disebut tes objektif karena penilaiannya objektif. Siapa pun yang mengoreksi jawaban tes objektif hasilnya akan sama karena kunci jawabannya sudah jelas dan pasti. Tes objektif menuntut peserta didik untuk memilih jawaban yang benar di antara kemungkinan jawaban yang telah disediakan, memberikan jawaban singkat, dan melengkapi pertanyaan atau pernyataan yang belum sempurna. Tes objektif sangat cocok untuk menilai kemampuan yang menuntut proses mental yang tidak begitu tinggi, seperti mengingat, mengenal, pengertian, dan penerapan prinsip-prinsip (Arifin, 2009:135).

 

2.1.2      Jenis-jenis Tes Objektif

Selanjutnya Arikunto (2009:165) mengemukakan beberapa jenis tes objektif. Jenis-jenis tes objektif adalah sebagai berikut:

a.     Tes Benar Salah (True-False)

Soal-soalnya berupa pernyataan-pernyataan. Pernyataan tersebut ada yang benar ada yang salah. Orang yang ditanya bertugas untuk menandai masing-masing pernyataan tersebut dengan melingkari (B) untuk pernyataan yang betul menurutnya dan (S) untuk pernyataan yang salah.

Salah satu fungsi bentuk soal benar-salah adalah untuk mengukur kemampuan peserta didik dalam membedakan antara fakta dan pendapat. Agar soal dapat berfungsi dengan baik, maka materi yang ditanyakan hendaknya homogen dari segi isi. Bentuk soal seperti ini lebih banyak digunakan untuk mengukur kemampuan mengidentifikasi informasi berdasarkan hubungan yang sederhana (Arifin, 2009:137).

Contoh:

B-S : Novel Siti Nurbaya ditulis oleh Marah Rusli

B-S : Datuk Maringgih adalah salah satu tokoh dalam novel Siti Nurbaya

Beberapa petunjuk praktis dalam menyusun soal benar-salah menurut Arifin (2009:137) adalah sebagai berikut:

1.     Dalam menyusun item bentuk benar-salah ini hendaknya jumlah item cukup banyak di atas 50 soal, sehingga dapat dipertanggungjawabkan.

2.     Jumlah item yang benar dan salah hendaknya sama.

3.     Berilah petunjuk cara mengerjakan soal yang jelas dan memakai kalimat yang sederhana.

4.     Hindarkan pernyataan yang terlalu umum, kompleks, dan negatif.

5.     Hindarkan penggunaan kata yang dapat memberi petunjuk tentang jawaban yang dikehendaki. Misalnya: biasanya, umumnya, selalu.

b.     Tes Pilihan Ganda (Multiple Choice Test)

Tes pilihan ganda terdiri atas suatu keterangan atau pemberitahuan tentang suatu pengertian yang belum lengkap. Dan untuk melengkapinya harus memilih satu dari beberapa kemungkinan jawaban yang telah disediakan. Tes ini terdiri dari keterangan (stem) dan bagian kemungkinan jawaban atau alternatif (options). Kemungkinan jawaban terdiri atas satu jawaban yang benar yaitu kunci jawaban dan beberapa pengecoh (distructor).

Mengenai jumlah alternatif jawaban sebenarnya tidak ada aturan baku. Guru bisa membuat 3, 4, atau 5 alternatif jawaban. Semakin banyak semakin bagus. Hal ini dimaksudkan untuk mengurangi faktor menebak (chance of guessing). Adapun kemampuan yang dapat diukur oleh bentuk soal pilihan ganda antara lain: mengenal istilah, fakta, prinsip, metode, dan prosedur; mengidentifikasi penggunaan fakta dan prinsip; menafsirkan hubungan sebab-akibat dan menilai metode prosedur (Arifin, 2009:138-139).

Berikut beberapa petunjuk praktis dalam menyusun soal bentuk pilihan-ganda menurut Arifin (2009:143), yaitu:

1.     Harus mengacu pada kompetensi dasar dan indikator soal.

2.     Berilah petunjuk mengerjakannya dengan jelas.

3.     Jangan memasukkan materi soal yang tidak relevan dengan apa yang sudah dipelajari peserta didik.

4.     Pernyataan pada soal seharusnya merumuskan persoalan yang jelas dan berarti.

5.     Pernyataan dan pilihan hendaknya merupakan kesatuan kalimat yang tidak terputus.

6.     Alternatif jawaban harus berfungsi, homogen dan logis.

7.     Panjang pilihan pada suatu soal hendaknya lebih pendek daripada itemnya.

8.     Usahakan agar pernyataan dan pilihan tidak mudah diasosiasikan.

9.     Alternatif jawaban yang betul hendaknya jangan sistematis

c.     Menjodohkan (Matching Test)

Matching test dapat diganti dengan istilah mempertandingkan, mencocokkan, memasangkan, atau menjodohkan. Matching test terdiri atas satu seri pertanyaan dan satu seri jawaban. Masing-masing pertanyaan mempunyai jawaban yang tercantum dalam seri jawaban. Tugas murid adalah mencari dan menempatkan jawaban-jawaban, sehingga sesuai atau cocok dengan pertanyaannya.

Perbedaannya dengan bentuk pilihan-ganda adalah pilihan-ganda terdiri dari stem dan option, kemudian peserta didik tinggal memilih salah satu option yang dianggap paling tepat, sedangkan bentuk menjodohkan terdiri atas kumpulan soal dan kumpulan jawaban yang keduanya dikumpulkan pada dua kolom yang berbeda. Jumlah pilihan jawaban dibuat lebih banyak daripada jumlah persoalan.

Bentuk soal ini sangat baik untuk mengukur kemampuan peserta didik dalam mengidentifikasi informasi berdasarkan hubungan yang sederhana dan kemampuan mengidentifikasi kemampuan menghubungkan antara dua hal. Makin banyak hubungan antara premis dengan respons dibuat, maka makin baik soal yang disajikan (Arifin, 2009:144).

Untuk menyusun soal bentuk ini, Arifin (2009:145) memberikan beberapa kriteria, yaitu:

1.     Buatlah petunjuk tes dengan jelas, singkat, dan mudah dipahami.

2.     Sesuaikan dengan kompetensi dasar dan indikator.

3.     Kumpulan soal diletakkan di sebelah kiri, sedangkan jawabannya di sebelah kanan.

4.     Jumlah alternatif jawaban hendaknya lebih banyak daripada jumlah soal.

5.     Susunlah item-item dan alternatif jawaban dengan sistematika tertentu. Misalnya, sebelum pokok persoalan, didahului dengan stem, atau bisa juga langsung pada pokok persoalan.

6.     Seluruh kelompok soal dan jawaban hanya terdapat dalam satu halaman.

7.     Gunakanlah kalimat yang singkat dan langsung terarah pada pokok persoalan. 

d.     Tes Isian (Completion Test)

Completion test biasa disebut dengan istilah tes isian, tes menyempurnakan, atau tes melengkapi. Completion test terdiri atas kalimat-kalimat yang ada bagian-bagiannya yang dihilangkan. Bagian yang dihilangkan atau yang harus diisi oleh murid ini merupakan pengertian yang kita minta dari murid.

Untuk menyusun soal bentuk ini, Arifin (2009:146) memberikan beberapa kriteria, yaitu:

1.     Hendaknya tidak menggunakan soal yang terbuka, sehingga ada kemungkinan peserta didik menjawab secara terurai.

2.     Untuk soal tes bentuk melengkapi hendaknya tidak mengambil pernyataan langsung dari buku (textbook)

3.     Titik-titik kosong sebagai tempat jawaban hendaknya diletakkan pada akhir atau dekat akhir kalimat daripada pada awal kalimat. 

4.     Jangan menyediakan titik-titik kosong terlalu banyak. Pilihlah untuk masalah yang urgen saja.

5.     Pernyataan hendaknya hanya mengandung satu alternatif jawaban, dan

6.     Jika perlu dapat digunakan gambar-gambar sehingga dapat dipersingkat dan jelas.

2.1.3      Kelemahan dan Kelebihan Tes Objektif

Berikut adalah kelebihan dan kelemahan tes objektif menurut Arikunto (2009:164-165). 

No.

Kelebihan

Kelemahan

1

Mengandung banyak segi positif, lebih representatif, dan objektif.

Membutuhkan persiapan penyusunan soal yang sulit.

2

Pemeriksaan lebih mudah dan cepat.

Soalnya cenderung mengungkapkan ingatan dan sukar mengukur proses mental.

3

Pemeriksaan dapat diserahkan pada orang lain.

Banyak kesempatan untuk main untung-untungan.

4

Tidak memiliki unsur subjektifitas dalam proses pemeriksaan.

“Kerja sama” antarsiswa dalam mengerjakan tes lebih terbuka.

Lebih lanjut Arikunto (2009:177) mengemukakan beberapa kondisi kapan dan bagaimana tes objektif ini digunakan

a.     Kelompok yang akan dites banyak dan tesnya akan digunakan berkali-kali.

b.     Skor yang diperoleh diperkirakan akan dapat dipercaya (mempunyai reliabilitas yang tinggi).

c.     Guru lebih mampu menyusun tes bentuk objektif daripada tes bentuk esai.

d.     Hanya mempunyai waktu sedikit untuk koreksi dibandingkan waktu yang digunakan untuk menyusun tes.

 

2.2           Tes Proyeksi

2.2.1      Pengertian Tes Proyeksi

Proyeksi adalah suatu istilah yang sekarang ini banyak digunakan dalam psikologi klinis, psikologi dinami psikologi sosial. Psikologi proyektif merupakan dasar dari berbagai macam bentuk proyeksi termasuk tes-tes proyektif yang bersifat verbal maupun non verbal. Istilah proyeksi pertama kali dikemukakan oleh Freud pada awal-awal tahun 1894 dalam tulisannya “The Anxiety Neurosis" yang mengatakan bahwa: "Jiwa manusia memilik potensi untuk mengembangkan kecemasan yang neurotis disaat dirinya merasa tidak mampu mengatasi rangsang- rangsang atau gairah-gairah seksual. Hal itu seolah-olah telah memproyeksikan gairah-gairah ini ke dalam dunia luar".

Pada tahun 1896 dalam tulisan "On The Defense Neuropsychosis" Freud menyampaikan elaborasi lebih jauh mengenai konsep proyeksi. Secara eksplisit Freud mengatakan bahwa proyeksi merupakan proses pelampiasan keluar dorongan-dorongan, perasaan-perasaan, dan sentimen-sentimen yang ada pada diri individu ke orang lain atau dunia luar sebagai proses yang sifatnya defensif dan individu tidak menyadari fenomena yang terjadi pada dirinya ini.

Freud memberi contoh elaborasi tersebut melalui kasus Schreber (penderita paranoid yang memiliki kecenderungan homoseksual). Karena ada tekanan dari super ego yang tidak memperbolehkan pria mencintai pria terjadi reaksi formasi mentransferkan suatu sikap "I love him" menjadi "I hate him" (proyeksi benci yang sebenarnya cinta). "I hate him" masih ada kelanjutannya menjadi "He hates me".

Konsep proyeksi Freud ini serupa dengan konsep kompensasi dari Adler (prinsip inferioritas dan kompensasi). Sejak lahir manusia memiliki kelemahan, namun manusia tidak putus asa dengan cara melakukan kompensasi untuk menutupi kelemahan-kelemahannya. Bentuk kompensasi Adler ini sama dengan proyeksi.

Ahli lain yaitu Healy, Bronner dan Brouer (dalam Abt & Bellak 1959) mendefinisikan istilah proyeksi serupa dengan apa yang disampaikan oleh Freud yaitu proses defensif di bawah kekuasaan prinsip kenikmatan. Ego akan melampiaskan terus menerus dorongan-dorongan dan keinginan-keinginan yang tidak disadari ke dunia luar, karena bila muncul dalam kesadaran akan menyakitkan dan membuat ego menjadi tercela. Untuk itu orang melakukan proyeksi.

Dari pengertian Freud maupun Healy, Bronner dan Brouer dapat dikatakan bahwa proyeksi merupakan bentuk mekanisme pertahanan diri. (misalnya Psikologi Dalam) mengatakan bahwa mekanisme pertahanan diri atau proses defensif yang paling banyak dilakukan manusia adalah proyeksi. Seorang ahli yang bernama berkomentar bahwa proyeksi memang proses defensif yang penting dan paling banyak dilakukan manusia tetapi dari seluruh teori psikoanalisis, proyeksi merupakan suatu istilah yang paling tidak dapat didefinisikan secara jelas. Beberapa tulisan mengenai proyeksi hanya terbatas dalam konteks klinis- psikoanalisis dan akademis.

Pada dasarnya memang tidak banyak ahli yang memberikan pengertian atau definisi mengenai proyeksi. Oleh karena itu pengertiannya pun menjadi terbatas. Freud sebagai ahli pertama yang memberikan pengertian konsep proyeksi lebih memfokuskan pada bidang klinis karena sesuai dengan asal usulnya Freud memang banyak menemukan gejala perilaku proyeksi dari kasus- kasus klinis yaitu psikosa dan neurosa. Pada akhirnya konsep proyeksi menjadi paling banyak dipakai pada bidang-bidang klinis. Oleh karena itu dalam menganalisis perilaku proyeksi biasanya mengarah pada hal- hal yang bersifat klinis atau abnormal. Namun demikian sebenarnya konsep proyeksi dapat pula diterapkan dalam bidang Psikologi Industri, Psikologi Pendidikan, Psikologi Sosial maupun Psikologi Perkembangan. Misalnya dalam psikologi perkembangan hasil penelitian Margareth Mead menunjukkan bahwa perilaku atau kehidupan psikis anak merupakan proyeksi dari masyarakat dimana anak itu hidup.

Meskipun pada awal kemunculannya proyeksi selalu dikaitkan dengan psikosis dan neurosis, lebih lanjut Freud mengatakan bahwa proyeksi dapat diterapkan pada bentuk-bentuk perilaku lain yang lebih luas misalnya timbulnya kepercayaan-kepercayaan tertentu pada masyarakat, berbagai macam bentuk-bentuk kesenian dan hal-hal yang bersifat religius yang kesemuanya ini dasarnya adalah proyeksi. Dalam hal ini, proyeksi masih dipandang sebagai suatu proses defensif untuk melawan kecemasan.

2.2.2      Dasar-Dasar Terjadinya Proyeksi

Dari pernyataan-pernyataan para ahli mengenai proyeksi dapat dikatakan ada tiga hal yang mendasari terjadinya proyeksi yaitu :

a.     Dasar mekanisme penolakan Individu ingin meringankan beban psikis yang ada dalam dirinya kemudian dimanifestasikan dalam perbuatannya dan perbuatan itu menolak keinginan-keinginan yang sudah ada

b.     Usaha   pendekatan    Yaitu    usaha    yang    dilakukan    individu    untuk mengembalikan hubungan yang sebenarnya sudah putus lalu berusaha mendekati kembali supaya hubungan terjadi lagi.

c.     Hubungan antara subyek dan obyek yang merupakan satu kesatuan..

2.2.3      BEBERAPA PANDANGAN TENTANG PROYEKSI

Beberapa pandangan secara umum tentang proyeksi yaitu;

a.     Proyeksi adalah setiap pengamatan yang normal yang berujud pemindahan, penghayatan dari seseorang ke dunia luar yang kemudian mempengaruhi proses pengamatan individu terhadap proses yang diamati.

b.     Proyeksi merupakan gejala -gejala yang mengarah ke halusinasi. Dalam proyeksi dapat terjadi sesuatu yang ada pada individu dipindahkan ke luar tapi dalam realita apa yang diamati itu tidak ada.

Proyeksi juga mengarah pada ilusi yaitu dunia pengamatan individu dilibatkan dan diorganisasir berdasar prinsip-prinsip afek. Jadi pengamatan pada dunia luar dipengaruhi harapan- harapannya menurut caranya sendiri.

2.2.4      Perkembangan Psikologi Proyektif

Pada awal kemunculannya, Psikologi proyektif menentang aliran-aliran yang telah berkembang sebelumnya yaitu:

a.          Aliran strukturalisme yang memandang individu sebagai kumpulan bagian- bagian Aliran asosiasi yang memandang individu sebagai kumpulan

b.         Tanggapan-tanggapan Aliran behaviorisme yang memandang individu sebagai

c.           Kumpulan tingkah laku Aliran reflexologi yang memandang individu sebagai kumpulan rekasi-reaksi bersyarat.

Psikologi proyektif sendiri dalam perkembangannya banyak dipengaruhi oleh konsep-konsep Psikologi Gestalt dan Psikologi Belajar, serta yang terutama adalah konsep-konsep Psikoanalisa. Tentu saja dalam memandang kepribadian individu Psikologi proyektif lebih banyak mendasarkan pada konsep Psikoanalisa.

Pada masa perkembangan Psikologi proyektif, memang muncul dua cara pandang yang berbeda dalam memahami kepribadian individu. Kedua cara pandang tersebut adalah :

a.          Cara pandang Behavioristis Banyak dipengaruhi oleh aliran-aliran non psikoanalisa (non psikologi dalam), dan yang paling dominan adalah aliran Gestalt 4.

b.         Cara pandang Fungsional Bertentangan dengan Behavioristis; lebih banyak dipengaruhi oleh aliran Psikologi Dalam atau Psikoanalisa

Menurut Northrop ada empat perbedaan antara cara Behavioristis dengan cara Fungsional dalam memahami kepribadian individu yaitu :

Behavioristis

Fungsional

Hanya memperhatikan gejala-gejala yang tampak

Lebih memperhatikan hal-hal yang internal (tidak disadari)

Dalam melihat dinamika kepribadian memperhatikan hubungan antara gejala-gejala yang tampak

Memperhatikan hal internal sebagai pengatur dinamika kepribadian

Gejala-gejala yang tampak sebagai kumpulan dari berbagai macam tingkah laku

Memperhatikan bagaimana individu memproyeksikan bagian-bagian yang tidak disadari dengan cara mengemukakan psikodinamikanya

 

Dalam mengungkapkan aspek-aspek psikologis mengguakan teknik-teknik non proyektif

Dalam mengungkap aspek-aspek psikologis menggunakan tenik-teknik proyektif

 

 

Lebih jauh, meski utamanya Psikologi Proyektif kental dipengaruhi oleh aliran Psikoanalisa namun Psikologi Proyektif memiliki cara pandang sendiri dalam memahami kepribadian individu yaitu :

1.         Kepribadian dipandang sebagai proses bukan sekedar koleksi atau kumpulan dari aspek-aspek kepribadian.

2.         Kepribadian yang banyak diungkap dengan menggunakan teknik proyektif merupakan interaksi antara apa yang ada di dalam individu dengan lingkungannya.

 

 

2.2.5      Eksperimen Bellak Mengenai Fenomena Proyeksi

Sebelum eksperimen mengenai proyeksi yang dilakukan Bellak, ialah proyeksi sudah dianggap telah terdefinisikan dengan baik. istinai pada akhirnya munculah suatu pengetahuan baru mengenai Sampn proyeksi setelah eksperimen dari Bellak. Bellak adalah konekg ahli yang tertarik untuk mengetahui lebih lanjut mengenai tenomena proyeksi. Eksperimennya adalah sebagai berikut:

Eksperimen pertama, beberapa subyek ditunjukkan sejumlah tatu TAT.dalam keadaan sadariterkontrol. Setelah itu (sebagai eksperimen kedua) subyek dikenai post hipnosa dibawa dalam kondisi agresif tanpa subyek menyadarinya dan kemudiab diminta untuk menceritakan gambar- gambar dari kartu-kartu TAT. Hasilnya subyek menunjukkan peningkatan dalam sikap agresifnya ketika menceritakan kartu-kartu dibanding eksperimen yang pertama. Hasil serupa juga ditunjukkan pada saat subyek dibuat merasa sedih dan tidak bahagia dalam post hipnosa; subyek tampak memproyeksikan kesedihan dan perasaan-perasaan tidak bahagianya saat bercerita melalui kartu TAT.

Sampai eksperimen ini tidak ada perubahan mengenai pengertian proyeksi yaitu proses pelampiasan keluar sentimen-sentimen atau dorongan-dorongan yang tidak dapat diterima ego apabila sampai muncul keluar. Jadi pengertiannya masih dalam konteks mekanisme pertahanan diri.

Lebih jauh, Bellak melakukan eksperimen lanjutan untuk melihat fenomena proyeksi yaitu:

Sejumlah subyek ditunjukkan sejumlah kartu TAT kembali namun pada saat post hipnosa subyek dibuat merasa sangat gembira. Ternyata subyek juga memproyeksikan rasa gembiranya ketika bercerita melalui kartu-kartu yang ditunjukkan kepadanya.

Dari hasil eksperimen ini konsep proyeksi yang selama ini selalu dikaitkan dengan mekanisme pertahanan diri mulai goyah. Ternyata individu dalam keadaan tidak sedih, tertekan, atau konflik pun pun juga menunjukkan peningkatan semangat atau intensitas dalam bercerita. Jadi melalui eksperimen lanjutan ini dapat dikatakan bahwa proyeksi bukan semata-mata bentuk mekanisme pertahanan diri.

Freud mengatakan bahwa:

"Proyeksi bukanlah secara khusus terwujud untuk mengadakan pertahanan diri karena individu yang sedang tidak dalam keadaan konflik pun dapat juga melakukan proyeksi. Proyeksi dari inner perceptions terhadap dunia luar tersebut adalah suatu mekanisme primitif yang juga mempengaruhi persepsi kita, dan hal tersebut merupakan bagian yang paling besar dalam membentuk dunia luar kita. Inner perception adalah persepsi masa lalu yang mempunyai pengaruh besar dalam membentuk dunia luar. Dalam kondisi yang diliputi ketidakpastian inner perception yang merupakan proses-proses ideasional (lamunan, bayangan) maupun emosional, seperti halnya sense perceptions, diproyeksikan ke luar dan digunakan untuk membentuk dunia luar dimana hal tersebut semestinya dunianya sendiri" tetap berada.

Lebih lanjut Freud juga menjelaskan bahwa:

"Sesuatu yang diproyeksikan keluar dapat berubah bentuknya menjadi sesuatu yang lain. Bentuk ini yang mengetahui hanya individu itu sendiri dan sebenarnya bersifat latent yang dapat muncul kembali bila ada rangsangan yang dikatakan sebagai ko-eksistensi persepsi dan memori. Bila hal ini digeneralisasi disebut sebagai eksistensi proses ketidaksadaran jiwa vang muncul dalam kesadaran".

 

Dasar pemikiran tersebut sebenarnya menjelaskan bahwa ingatan masa lalu (perception memory) akan mempengaruhi persepsi yang sekarang (persepsi terhadap stimulus yang diterima). Pada semua tes proyektif prinsipnya adalah mengungkap persepsi masa lalu. Misalnya interpretasi dari Thematic Apperception Test (TAT) sesungguhnya didasarkan pada asumsi tersebut. Persespi subyek pada masa lalu mengenai ayahnya akan mempengaruhi persepsinya yang sekarang mengenai ayah saat mersepon figure ayah dalam kartu-kartu TAT. Dari eksperimen klinisnya Bellak juga menemukan bahwa perilaku dari perilaku ekprerimenter dapat memunculkan sentimen-sentimen yang berkaitan dengan figur ayah dan tidak semata-mata untuk maksud pertahanan diri.

 

2.2.6      Pengetian Teknik Proyeksi

Teknik proyeksi merupakan suatu alat yang memungkinkan untuk mengungkap motif, nilai, keadaan emosi, need yang sukar diungkap dalam situasi wajar dengan cara individu memproyeksikan pribadinya melalui obyek di luar individu.

Secara garis besar tes proyeksi dibagi dua kelompok yaitu :

a.     Verbal : Baik materi, komunikasi antara testee dengan tester dan respon subyek berujud verbal (lisan maupun tulisan).

b.     Non verbal: Wujud materi bukan dalam bentuk bahasa. Faktor bahasa hanya berperan untuk komunikasi antara testee dengan tester.

Sedangkan kelebihan atau nilai dari tes proyekif adalah: banyak bidang yang dapat digunakan sebagai materi tes proyektif misalnya pohon, orang, rumah dan sebagainya. Suatu teknik atau tes dikatakan bersifat apabila memiliki prinsip dasar atau ciri- ciri tertentu. Prinsip dasar dari tes/teknis proyeksi adalah:

a.      Stimulusnya bersifat todak berstruktur yang memungkinkan subyek mempunyai alternatif pilihan yang banyak.

b.      Stimulusnya bersifat ambigous yang memungkinkan subyek merespon stimulus/materi tes sesuai dengan interpretasinya masing-masing.

c.      Stimulusnya bersifat kurang mempunyai obyektifitas relatif Sifat ini memudahkan untuk mendapatkan individual differ. ences karena masing- masing subyek memiliki kesimpulan yang berbeda-beda dalam mengamati stimulus yang dihadapkan padanya.

d.      Global approach yang artinya menuntut kesimpulan yang luas Sifat-sifat tersebut di atas, (terutama ciri pertama dan kedua) memungkinkan individu memproyeksikan need, emosi, motif dan isi ketidaksadaran lainnya.

Di samping ciri-ciri di atas ada ciri-ciri lain dari teknik proyektif yang mungkin hanya dimiliki oleh beberapa tes proyektif saja contohnya TAT. Ciri-ciri tersebut adalah:

a.     Polivalensi yaitu mempunyai banyak kemungkinan Kartu-kartu dalam TAT terdiri dari berbagai kemungkinan/ situasi, yaitu:

1)    Figur jelas - latar belakang kabur

2)    Latar belakang kabur - figur jelas

3)    Figur jelas - latar belakang jelas

4)    Figur kabur - latar belakang kabur

b.     Polisemi yaitu salah satu jelas atau salah satu kabur Maksudnya, bisa figurnya yang jelas namun latar belakangnya kabur atau sebaliknya. Dalam merespon subyek harus dibuat kabur mengidentifikasi/membuat kepastian pada stimulus/ materi yang dibuat kabur.

c.     Monosemi yaitu baik figur maupun latar belakang kedua- duanya relatif jelas Hal ini memungkinkan untuk didapatkannya respon yang relatif sama dari para subyek.

d.     Asemi yaitu baik figur maupun latar belakang kedua-duanya kabur. Stimulus/materi demikian diyakini lebih mampu mengungkap ketidaksadaran.

 

2.2.7      Klasifikasi Tes Proyektif

a.     Menurut L.K Frank

Klasifikasi L.K Frank merupakan klasifikasi yang paling banyak diterima dasar pengklasifikasikan merupakan sifat respon subjek. Klasifikasinya adalah sebagai berikut :

1)    Teknik Konstituitif (menyusun)

Subjek diberikan materi yang belum terstruktur, dan kemudian diminta untuk memberi struktur. Contohnya, Tes Wartegg, Tes Rosarch, Tes Finger Print

2)    Teknik Konstruktif (membentuk)

Subjek diberikan materi yang belum berbentuk, kemudian diminta membentuk bedanya teknik konstituitif, teknik konstruktif materinya lebih mentah dan lebih free expression bagi subjek.

3)    Tektik Interpretatif (menginterpretasi)

Subjek diberikan materi kemudian diminta menginterpretasi, Contoh dari tesnya yakni TAT,CAT, Word Association Test (SSCT).

4)    Teknik Katarik

Tujuan atau fungsi dari teknik ini yakni ketika subjek merespon akan terjadi pengurangan hambatan-hambatan psikis. Contoh dari tesnya yakni : Play Technique (bermain, psikodrama), Lowenfeld Mozaic.

5)    Teknik Refratik/Ekspresif ( tambahan dari SYMOND)

Subjek   diberikan   materi/   stimulus,   kemudian   subjek diminta mengekspresikan need, sentimen dan lain sebagaunya yang ada padanya. Contoh tesnya adalah: Tes grafis, grafologi, tes bender gestalt, Myokenetic Diagnosis.

b.     Menurut Lindzey

Dasar dari pengklasifikasian dari Lindzey yakni tipe dari jawaban subjek. Klasifikasinya terbagi menjadi :

1)    Teknik Asosiasi

Subjek diberikan materi kemudian diminta untuk merespon dengan cara mengeluarkan penyampaian yang pertama kali muncul dalam pikiran atas stimulus tersebut. Contoh tes : Tes Rosarch,SSCT

2)    Teknik Konstruktif

Subjek diminta menyusun materi yang belum berbentuk menjadi sebuah cerita/gambar , dan fokus pada hasil subjek. Contohnya: TAT,CAT<dan subtest yang mengatur gambar (WAIS)

3)    Teknik Melengkapi

Subjek diberikan materi yang belum lengkap dan kemudian diminta untuk melengkapinya. Contoh : SSCT

4)    Teknik Mengatur

Subjek diberikan materi/ soal yang memiliki alternatif jawaban yang sesuai dengan dirinya atau membuat urutan atas dasar pilihan jawaban yang ada. Contoh: Study of Value, Survey Interpersonal Value, tes-tes mengukur kreativitas

5)    Teknik Ekspresif

Hampir mirip dengan teknik konstruksi, hanya saja materi harus dibentuk dengan sifat yang lebih mentah, dan fokusnya pada cara subjek menyelesaikan materi. Contoh: Finger Printing Test Project Therapy, Achivement, Motivation Training (AMT).

 

 

2.2.8      Isu-Isu Tes Proyektif

Pada beberapa hal teknik proyektif mempunyai kelebihan dan kekurangan, antara lain (Anastasi,1982):

a.     Rapport dan Keleluasaan Pengguna

Sebagian besar teknik proyektif dapat berfungsi sebagai ice breaker selama terjadinya hubungan antara tester dan testi. Tugas-tugas menarik dan tidak membosankan, bahkan seringkali bersifat menghibur.

b.     Faking

Pada umumnya teknik proyektif dapat terhindar dari kecendrungan terjadinya faking, dibandingkan dengan self raport. Tujuan dari teknik proyektif seringkali kabur dan sulit ditebak, bahkan teknik proyektif yang sudah sangat dikenal seperti Rosarch dan TAT. Testi lebih memikirkan respon apa yang akan dibuat, daripada menebak tujuan dari tes itu sendiri.

c.     Variabel Tester dan Situasi

Sudah dijelaskan bahwa sebagian besar teknik proyektif lemah dalam standarisasi baik administrasu maupun skoringnya. Oleh karena itu, untuk hasil yang akurat faktor tester dan situasi tes menjadi sangat penting.

d.     Norma

Kelemahan dari teknik proyektif adalah data normatif. Sejumlah data mungkin sangat kurang , tidak adekuat atau meragukan. Hal ini juga akan berpengaruh pada objektifitas interpretasi.

e.     Realibilitas

Sebuah teknik, seperti ha1nya teknik proyektif yang dianggap mempunyai prosedur skoring yang relatif kurang terstandar, skoring objektif, realibilitas skorer tidak sekedar memberikan skoring objektif, tetapi juga merupakan tahap skorermemberikan integrasi dan interpretasi secara lengkap.

f.      Validitas

Studi tentang validitas teknik proyektif yang banyak dilakukan adalah concurrent criterion-related validity. Dengan cara membandingkan performansi dari kelompok-kelompok kontras, dengan menggunakan alat ukur lain yang mengungkapkan hal yang sama.

2.2.9      Jenis Tes Proyektif

Bentuk-bentuk tes priyektif adalah

·       Teknik ink blok disebut dengan tinta pada tes Roschach.

·       Teknik pictorial berupa tes dalam bentuk gambar seperti TAT,CAT, dan SAT

·       Verbal, tes ini ditampilkan dalam bentuk asosiasi kata dan sentence completion

·       Autobiography, yaitu dalam bentuk diary atau pengalaman sehari hari yang dilakukukan.

·       Teknik performance, yaitu menggambar seperti pada tes HTP, DAM, BAUM

Secara umun tes proyektif dibagi dua bagian besar yaitu bersifat verbal dan non verbal.

Contoh tes proyektif yang bersifat verbal adalah :

a.     EPPS (Edward Personnal Preference Schedule)

Tes kepribadian yang dikategorikan sebagai pawer tes yaitu tes yang tidak dibatasi waktu dalam pengerjaannya. Tes EPPS bertujuan untuk mengungkapkan 15 need yang ada pada diri seseorang. Bentuk tes EPPS berupa pasangan-pasangan satu pernyataan berjumlah 225 pasang. Dari 225 pasang pernyataan ada 15 pasang yang sama.

 

b.     SSCT (Sacks Sentences Completion Test)

Tes proyektif yang menggunakan bahasa dan bersifat asosiasi. Bentuknya berupa kalimat-kalimat yang belum lengkap sejumlah 60 item. Tugas subjek adalah melengkapi kalimat-kalimat yang belum lengkap tersebut secara spontan dengan apa yang pertama kali muncul dalam pikiranya. Tujuan tes SSCT ini untuk mengungkap kegagalan-kegagalan penyesuaian diri. Adapun aspek yang di ungkap yaitu:

   Sikap subjek terhadap keluaga

   Sikap subjek terhadap seks

   Sikap subjek terhadap hubungan interpersonal

   Sikap subjek terhadap konsep diri

c.     MMPI `(Minnesota Multiplechoice Personality Inventory)

Kegunaan dari tes MMPI adalah untuk menagani kasus-kasus klinis seperti hypocondria, depresi, histeria, psikopat, schizoprenia, hypomania,femininitas dan maskulinitas. Bentuk tes MMPI berupa pernyataan –pernyataan yang harus direspon testee sesuai dengan keadaan yang ada pada dirinya. Ada 566 item, tiap item hanya aa 1 pernyataan.

d.     Kuder

Kegunaan tes ini adalah untuk megetahui minat/kesenangan dalam berbagai pekerjaan, biasanya untuk kasus-kasus pekerjaan seperti misalnya seleksi karyawan. Item dalam tes kuder berjumlah 168 item, tiap item berisi 3 option.

e.     Study Of Value

Study of value pertama kali dikemukakan oleh allport, vernon dan lindzey. Kegunaan dari study of value adalah untuk megetahui nilai-nilai apa yang dominan pada diri seseorang, didasarkan atas 6 kepribadian spanger yaitu; nilai ekonomis, teoritis, estetis, sosial, politik, agama. Item tes dikelompokan menjadi 2 bagian. Bagian 1 terdiri dari 30 item dan bagian ke 2 terdiri dari 15 item.

Contoh tes proyektif yang bersifat verbal adalah:

a.     TAT (Thematic Aperception Test)

Tes ini merupakan tes daya khayal (suatu bentuk tes kecerdasan), terdiri 31 kartu yang dikelompokkan dalam beberapa yaitu netral, boy (B), girl (G), female (F), male (M). TAT dapat dikenakan untuk subjek dengan usia minimalempat tahun.kartu yang disajiak cukup 20 kartu, dipilih berdasarkan atas tingkat usia dari permsalahan subjek.

b.     CAT (Children Aperception Test)

CAT merupakan pengembangan dari TAT, dikembangkan oleh bellak (leopold bellak) dan sonya sorel bellak. Menurut bellak stimulus kartu TAT tidak cocok untuk anak-anak, mak dikembangkan tes mirip dgn TAT dengan stimulus yang lebih mudah di respon anak-anak yaitu berfigur binatang dan suasananya pun khas anak-anak dan di adptasikan sesuai figur budaya indonesia. CAT dapat dikenakan pada anak usia 3 sampai 10 tahun.

c.     CATH (Children Aperception Test-Human)

Stimulus CATH sama dengan CAT hanya saja figur-figurnya merupakan figur manusia yang jenis kelaminnya tidak jelas (ambiguous). Suasana setiap figur tetap sama dengan CAT yaitu suasana kehidupan anak. Perbedaan stimulus hanya karena perbedaan dasar teori.

d.     CATS (Children Aperception Test Supplement)

CATS fungsinya sebagai pelengkap CAT, dipergunkan untuk menggali data tambahan. Oleh karena itu CATS biasanya hanya digunakan untuk kasus-kasus yang sudah jelas masalahnya. Misalnya masalah subjek berjaitan dengan masalah kebersihan dalam memberikan kartu CATS langsung dipilih kartu-kartu y agn relevan.

e.     FAT (Family Aperception Test)

Kegunaan tes ini adalah untuk mengungkapkan problem- problem perkembangan anak maupun emosi anak. FAT dapat dirgunakan untuk nak usia 3 sampai 10 tahun. Apabila dengan CAT dapat diungkap sampai lingkungan sosialnya. FAT ada 7 (0 sampai 6) dengan figuran.

f.      SAT (Senior Aperception Technique)

SAT merupakan pengembangan dari TAT. SAT untuk orang-orang yang sudah tua (manusia) yang berusia lebih dari 65 tahun. Jumlah kartu ada 16 kartu. Hal-hal yang diungkap dalam tes ini adalah;

·       Kemarahan-kemarahan yang dimiliki/dipendam pada masa muda sampai tua.

·       Rasa ketidak berdayaan diri

·       Penyesuaian diri; apakan masih semangat atau tidak.

·       Ketakutan-ketakutan yang berarti, misalnya merasa tak berati karena mengahadapi masa pensiun

·       Ketakutan untuk terluka, misalnya ketakutan diabaikan anaknya

·       Pendapatnya tentang kaum muda

g.     GPPT (Group Personality Projective Test)

Awalnya GPPT digunakan untuk menentukan kecemasan. Namun lebih lanjut GPPT digunakan untuk mengetahui seberapa jauh kebutuhan psikologis seseorang bisa muncul dalam kehidupan manusia atau perilakunya. Ada 15 need yang diungkap oleh GPPT yang secra garis besar dikelompokkan menjadi tiga yaitu personal needs, sosial needs, dan emotional needs.

h.    Tes Szondy

Kegunaan tes ini adalah untuk mengungkap dinamika kepribadian testee, untuk mengetahui struktur daerah kepribadian testee, dan untuk mengetahui aspek dinamis dari kepribadian testee.

 

Contoh tes proyektif yang bersifat verbal adalah:

a.     Tes grafis ( grafologi, Baum, DAM, HTP)

Tes grafis disebut juga sebagai paper and pencil test karena hanya melibatkan 2 bahan tersebut dan dianggap sebagai tes yang sederhana dan murah, Sederhana karena tugas yang diberikan tidak rumit, mudah dimengerti subyek dan waktu pengerjaan tidak lama dan Murah karena hanya melibatkan beberapa lembar kerja, HVS 70gr ukuran A4 dan sebatang pinsil HB. Tes grafis yang umum dikenal sebenarnya terdiri dari empat alat tes yang berdiri terpisah. Mereka adalah BAUM, Draw A Person (DAP), House Tree Person (HTP), dan Drawing Completion Tes (DCT). Salah satu dari tes grafis yang pertama :

·       Tes BAUM

Merupakan sebuah tes psikologi yang digunakan untuk evaluasi kepribadian individu dengan cara meminta individu untuk menggambar pohon. Gambar yang dibentuk oleh individu memiliki kesamaan aspek yang menjadi ciri khas individu tersebut seperti ukuran, garis, atau letak.

Tes ini dapat digunakan pada individu normal, anak-anak, dewasa, orang tua, untuk orang umum pada orang yang mengalami patologi seperti pasien schizophrein, orang-orang yang mengalami gangguan mental dan kognitif.

·       Tes HTP

Tes HTP (House tree Person) umumnya memiliki tujuan untuk mengukur keseluruhan pribadi. Waktu yang dipergunakan dalam tes Psikologi HTP normalnya selama 10 menit. Beberapa alasan digunakannya tes HTP sama seperti tes DAP dan BAUM, yaitu:

·       Karena ketiga objek tersebut paling dikenal oleh orang

·       Hampir semua orang tak menentang diminta menggambar House Tree Person

·       Dibandingkan dengan objek lain, objek yang lebih dapat menstimulir verbalisasi yang sifatya jujur dan bebas.

·       TES DAP

DAP atau Draw a Person adalah salah satu jenis psikotes menggambar. Tes ini mudah diinterpretasikan dan banyak digunakan di berbagai negara karena tidak ada hambatan bahasa, hambatan budaya dan komunikasi antara penguji dan peserta tes. Biasannya, DAP digunakan dalam berbagai tujuan sehingga bersifat universal.

b.     TES wartegg

Tes Wartegg merupakan salah satu asesmen tes psikologi yang digunakan untuk evaluasi kepribadian (personality assessment). Tes ini adalah tes proyektif yang merupakan kombinasi dari teknik completions dan expressions karena telah memiliki stimulus-stimulus yang perlu diselesaikan dengan mengekspresikan suatu gambar (nieizel & bemstein,1987). Teknik proyektif dalam tes wartegg adalah teknik konstitutif yaitu subjek diberikan materi yang belum berstuktur, yang kemudian subjek diminta untuk memberi struktur (Frank, dalam Karmiyati & Suryaningrum, 2008).

Tes Wartegg dikembangkan pada tahun 1920 dan 1930-an. Tes Wartegg merupakan tes yang berakar dari psikoanalisis dan psikologi Gestalt (Roivainen, 2009). Psikologi Gestalt berasumsi bahwa keseluruhan terdiri dari bagian-bagian dan bagian-bagian adalah keseluruhan, bahwa objek atau gambar dalam tes wartegg adalah sebuah kesatuan yang merupakan cerminan dari pengalaman seseorang yang menggambar.

·       Goodenough harris drawing test

Dapat dikenakan pada anak-anak(mulai dari usia 3 tahun ) dan orang dewasa. Kegunaan dari tes ini adalah untuk mengukur kemasakan intelektual. Bentuk berupa mengfigur tiga: figur laki-laki figur wanita dan figur diri sendiri.

·       VMI (Visual motoric integration

Dapat dikenakan untuk anak-anak pra sekolah dan SD serta anak-anak sekolah luar biasa namun tidak bisa digunakan sebagai terapi. Kegunaan dari tes VMI untuk memahami terjadinya hambatan-hambatan dalam belajar dan aspek yang dinilai adalah tingkat kemasakan visual motorik anak yang berupa presepsi dan kordinasi motorik tes ini bersifat “culture fair” atau bebas budaya.

·       Bender gestalt

Dipublikasikan pertama kali oleh lauretta benner pada tahun 1938. Tes ini memiliki kemiripan dengan tes VMI, namun kelebihannya dari tes bender gestalt adalah dapat mengungkapkan kerusakan fungsi otak dan gangguan emosi, tes ini juga dikenakan pada anak-anak maupun orang dewasa. Kegunaan tes ini dengan subjek anak-anak adalah :

·       Untuk mengukur intelegensi

·       Sebagai tes kesiapan sekolah(dilihat dari kemasakan visual motorikny)

·       Untuk mendeteksi kesulitan dalam mempelajari aritmatika.

 

 

Contoh tes proyektif yang bersifat non verbal bercak tinta adalah

a.     Tes roschach

Tes roscshach merupakan tes bercak tinta dan tes proyektif yang paling populer karena mampu mengungkapkan kepribadian secara utuh yang meliputi aspek intelektual (kapasitas dan efesiensinya)emosi dan fungsi ego. Tes ini dikembangkan hermann roschach pada tahun 1921 dan merupakan tes bercak tinta yang pertama kali. Tes ini dapat mengukapkan berbagai macam gejala piskiatri/klinis. Tes rorschach mengunakan sepuluh gambar dari bercak tinta, karena itu kadang tes ini dinamakan tes bercak tinta(inkbold).

b.     HIT (holtzman inkblot technique)

Diciptakan untuk menyempurnakan tes roschach. Dalam tes ini tidak dapat banyak yang dapat di respon dari kartunya yang dimana subjek diperkenankan hanya merespon satu saja untuk setiap kartu. Dari hal tersebut agar terlebih terstandar. Materi HIT berupa kartu-kartu yang berisi bercak tinta yang simetris dan yang tidak simetris serta terbagi menjadi dua seri, setiap seri berisi 47 kartu dari 45 kartu utama dan dua kartu percobaan.

 

 


 

BAB III

KESIMPULAN

 

3.1           Kesimpulan

3.2           Saran

 

 


 

DAFTAR PUSTAKA

Bellak, L. (1999). Handbook Of Psychological Assessment. (3rd Ed).USA: John Wiley &Sons,Inc

Karmiyati, D. & Suryaningrum, C.( 2008). Pengantar Psikologi Proyektif. Ed 2. Malang: UMM Press





 

Contoh tes proyektif non verbal yang berupa

bercak tinta adalah

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

DISKUSI FILM DAN KAITAN DENGAN TEORI HARRY S. SULLIVAN

makalah MEAN PARAMETRIK