makalah Harry Stack Sullivan

 

HARRY STACK SULLIVAN : TEORI INTERPERSONAL

Disusun untuk Memenuhi Tugas

Mata Kuliah : Psikologi Kepribadian

Dosen Pengampuh : Cut Sarah, S.Psi., M.psi., Psikolog.

 

 

 

 

 

 

Oleh:

Kelompok 4

 

FAKULTAS PSIKOLOGI

UNIVERSITAS MEDAN AREA

2022


KATA PENGANTAR

Kami ucapkan puji syukur kepada Allah SWT yang telah melimpahkan segala rahmatnya sehinga makalah ini bisa diselesaikan dengan baik. Penyusunan makalah ini tidak bisa diselesaikan dengan baik tanpa bantuan dari banyak pihak. Kami juga mengucapkan terima kasih kepada Ibu Cut Sarah, S.Psi., M.psi., Psikolog yang telah memberikan tugas ini kepada kami. Ada banyak hal yang bisa kami pelajari melalui penelitian dalam makalah ini.

Makalah berjudul “Harry Stack Sullivanyang membahas “Teori Interpersonal” disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Psikologi Kepribadian.  Selain itu, makalah ini juga diharapkan bisa memberikan sudut pandang baru tentang alat ukur diagnostik. Setelah berhasil menyelesaikan makalah ini, kami berharap apa yang sudah kami paparkan bisa bermanfaat untuk orang lain. Jika ada kritik dan saran terkait ide tulisan maupun penyusunannya, kami akan menerimanya dengan senang hati.

 

Medan,          Mei 2022

 

 

Kelompok 4


 

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR........................................................................................................................... i

DAFTAR ISI......................................................................................................................... ii

BAB I PENDAHULUAN.......................................................................................................................... 1

1.1      Latar Belakang........................................................................................................... 1

1.2      Rumusan Masalah........................................................................................................... 2

1.3      Tujuan Penulisan........................................................................................................... 2

BAB II PEMBAHASAN.......................................................................................................................... 3

2.1      Dimensi Umum Kepribadian........................................................................................................... 3

2.2      Pandangan Dasar Tentang Kepribadian / Prinsip-Prinsip Dasar........................................................................................................... 5

2.3      Struktur Kepribadian........................................................................................................... 6

2.4      Dinamika Kepribadian......................................................................................................... 12

2.5      Perkembangan Kepribadian......................................................................................................... 14

2.6      Psikopatologi/ Perubahan Perilaku......................................................................................................... 23

2.7      Kritik Terhadap Teori Dari Sullivan......................................................................................................... 23

BAB III PENUTUP........................................................................................................................ 26

3.1      Kesimpulan......................................................................................................... 26

3.2      Saran......................................................................................................... 27

DAFTAR PUSTAKA........................................................................................................................ 28

 



BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1           Latar Belakang

Kepribadian adalah ciri khas dari manusia, jika tidak ada kepribadian manusia dianggap sama saja dan tidak bisa mengenal satu sama lain. Kepribadian itu terbentuk karena adanya orang lain, orang lain berpengaruh dalam membentuk kepribadian manusia. Salah satu tokoh mengatakan bahwa jika ingin mengenal kepribadian dari seseorang maka dapat diketahui dari studi ilmiah mengenai hubungan interpersonal. Tingkah laku dibentuk karna adanya kebiasaan-kebiasaan dalam interaksi sosial satu sama lain pada manusia.

Harry Stack Sullivan adalah salah satu tokoh psikologi yang mengembangkan Interpersonal Theory. Ia sendiri dikenal sebagai Sullivan. Ia orang Amerika pertama yang membangun kepribadian yang komprehensif teori. Berbagai tahap perkembangan pada masa bayi, masa kanak-kanak, era remaja, remaja awal, akhir masa remaja, dan dewasa. Perkembangan manusia yang sehat  bersandar pada kemampuan seseorang untuk membangun keintiman dengan orang lain, tetapi sayangnya kecemasan dapat mengganggu hubungan interpersonal yang memuaskan pada usia berapa pun.Ironisnya, hubungan Sullivan sendiri dengan orang lain jarang memuaskan. Sebagai seorang anak, dia kesepian dan terisolasi secara fisik sebagai seorang remaja, ia menderita setidaknya satu episode skizofrenia sebagai orang dewasa. Karena ini Sullivan berkontribusi banyak pada pemahaman manusia (Feist 2008). Sangat menarik untuk membahas tokoh seperti Harry Stack Sullivan sendiri begitupun dengan teori yang ia kemukakan dalam psikologi kepribadian.

 

 

1.2           Rumusan Masalah

1.2.1      Bagaimana dimensi umum kepribadian?

1.2.2      Bagaimana pandangan dasar tentang kepribadian/ prinsip-prinsip dasar?

1.2.3      Bagaimana struktur kepribadian?

1.2.4      Bagaimana dinamika kepribadian?

1.2.5      Bagaimana perkembangan kepribadian?

1.2.6      Bagaimana psikopatologi/ perubahan perilaku?

1.2.7      Bagaimana kritik terhadap teori dari sullivan?

 

1.3           Tujuan Penulisan

1.3.1      Untuk mengetahui dimensi umum kepribadian.

1.3.2      Untuk mengetahui pandangan dasar tentang kepribadian/ prinsip-prinsip dasar.

1.3.3      Untuk mengetahui struktur kepribadian.

1.3.4      Untuk mengetahui dinamika kepribadian.

1.3.5      Untuk mengetahui perkembangan kepribadian

1.3.6      Untuk mengetahui psikopatologi/ perubahan perilaku

1.3.7      Untuk mengetahui kritik terhadap teori dari sullivan

 


 

BAB II

PEMBAHASAN

2.1           Dimensi Umum Kepribadian

Harry Stack Sullivan lahir disuatu daerah pertanian dekat Norwich, New York, pada tanggal 21 Februari 1892, satu-satunya anak yang hidup dari sebuah keluarga Irlandia Katolik miskin. Ibunya, Ella Stack Sullivan,berumur 32 tahun ketika menikahi Timothi Sullivan dan berumur 39 tahun ketika Harry lahir. Dia telah melahirkan dua putra lainnya, tidak satupun yang hidup melampaui umur setahun. Sebagai akibatnya, dia memanjakan dan menjaga anak satu-satunya yang mana keselamatannya dianggap sebagai kesempatan terakhir dari keibuannya (Lindzey 2005).

Saat berusia tiga tahun, mereka hidup di keluarga ibunya, ibu pernah dirawat di rumah sakit jiwa, ibu selalu menganggap keluarga ibunya lebih superior dibanding keluarga ayahnya. Karena itulah lahir teori interpersonal dimana menekankan persamaan di antara manusia dan bukan perbedaan. Ayah Harry, Timothy Sullivan  adalah seorang pria yang pemalu, suka menyendiri, pendiam yang tidak pernah membangun hubungan dekat dengan anaknya hingga setelah istrinya meninggal dan Sullivan menjadi dokter terkenal. Sebagai anak prasekolah, Sullivan tidak punya teman atau kenalan seumurannya. Setelah memulai sekolah, ia tetap merasa seperti orang luar, menjadi seorang anak Katolik Irlandia di sebuah komunitas Protestan.

Sullivan mempunyai teman dekat bernama Clarence sejak usia 13 tahun, dan sama-sama menjadi psikiater, dan mereka tidak menikah. Hubungan ini mengakibatkan prasangka bagi orang lain, bahwa mereka memiliki oriientasi seksual menyimpang yaitu : homoseksual. Tidak nyaman dengan seksualitas sehingga ambivalen terhadap pernikahan. Dalam teori kepribadian Sullivan yang sudah rampung, dia menekankan kekuatan relasi intim yang sangat terapis dan memiliki kekuatan yang hampir magis pada umur-umur preadolescent. Kepercayaan ini bersama dengan hipotesis Sullivan lainnya, sepertinya tumbuh dari pengalamannya pada masa kecil.

Sullivan tertarik dengan buku dan sains, tapi tidak dengan peternakan.Seorang murid yang pandai. Sullivan lulus dari SMA sebagai pembicara pada saat kelulusannya di umur 16 tahun. Dia kemudian masuk di Cornell University untuk menjadi seorang ahli fisika.walaupun dia juga tertarik dengan psikiatri.Tahun 1921, tanpa pelatihan formal di psikiatri, dia bergabung dengan St. Elizabeth di Washington, DC, dimana dia kenal dekat dengan William Alanson White, neuropsikiater paling terkenal di Amerika. di St. Elizabeth, Sullivan mendapat kesempatan pertamanya untuk bekerja dengan pasien schizophrenic dalam jumlah besar. Dia mempelajari Schizophrenia secara intensif, yang memberikan dugaan-dugaan awal tentang pentingnya relasi interpersonal.

Dalam mencoba mengambil makna dari perkataan pasien schizophrenic, Sullivan menyimpulkan bahwa penyakit mereka adalah arah untuk menyesuaikan diri dengan kecemasan yang disebabkan lingkungan sosial dan interpersonal. Dipengaruhi oleh teori Freud, Meyer dan William Alason White. Namun teori psikiatri interpersonal bukan aliran psikonalasis atau neo Freudian. Pengalamannya sebagai dokter klinis secara perlahan berubah menjadi awal mulanya teori psikiatri interpersonal. Sullivan wafat pada tanggal 14 Januari 1949 di kamar hotelnya pada saat di Paris. Harry Stack Sulivan adalah pencipta segi pandangan baru yang dikenal dengan nama interpersonal theory of psychiatry (Feist 2008).

Ajaran pokok teori ini dalam hubungannya dengan teori kepribadian ialah bahwa kepribadian adalah “pola yang relative menetap dari situasi-situasi antar pribadi yang berulang yang menjadi ciri kehidupan manusia”. “Sebuah kepribadian tidak pernah bisa diisolasikan dalam kompleks relasi-relasi antarpribadi yang didalamnya dia tinggal dan membuat keberadaannya jadi demikian” (Alwisol 2012).

Kepribadian merupakan suatu entitas hipotesis yang tidak dapat dipisahkan dari situasi-situasi antarpribadi, dan tingkah laku antar pribadi merupakan satu-satunya segi yang dapat diamati sebagai kepribadian. Karena itu Sullivan berpendapat bahwa sama sekali tidak ada gunanya berbicara tentang individu sebagai objek penelitian karena individu sama sekali tidak terpisah dari hubungannya dengan orang lain(Lindzey 2005).

Sullivan menegaskan bahwa pengetahuan tentang kepribadian manusia bisa dicapai hanya melalui studi ilmiah tentang hubungan-hubungan antarpribadi.Teori Interpersonal Sullivan menekankan pentingnya beragam tahap perkembangan masa bayi, masa kanak-kanak, masa anak muda, masa praremaja, masa remaja awal, masa remaja akhir, dan masa dewasa. Menurut Sullivan, tahap perkembangan kepribadian yang paling krusial sesungguhnya bukan pada masa kanak-kanak awal, melainkan pada masa pra remaja, sebuah periode ketika anak-anak pertama kali memiliki kemampuan untuk menjalin persahabatan yang intim dan belum sepenuhnya terganggu oleh ketertarikakan-ketertarikan hawa nafsu (Lindzey 2005).

2.2           Pandangan Dasar Tentang Kepribadian / Prinsip-Prinsip Dasar

Sullivan mengemukakan suatu pandangan yang lebih bersifat psikologi-sosial tentang perkembangan kepribadian yaitu suatu pandangan dimana pengaruh-pengaruh yang unik dari hubungan-hubungan manusia diberi peran yang semestinya, yang menempatkan faktor sosial menentukan perkembangan psikologis (Alwisol 2012).

Sullivan tidak menolak faktor-faktor fisiologis sebagai hal yang menentukan perkembangan kepribadian, sebab ia berpendapat bahwa kadang-kadang pengaruh-pengaruh sosial yang berlawanan dengan kebutuhan fisiologis seseorang bisa menyebabkan pengaruh yang merugikan kepribadiannya. Tema sentral teori Sullivan berkisar pada ansietas dan menekankan bahwa masyarakat sebagai pembentuk kepribadian. Sullivan mengemukakan bahwa setiap pribadi membutuhkan adanya hubungan antar pribadi. Hubungan antar pribadi ini merupakan sumber perkembangan pribadi. Maka, salah satu ciri dari kepribadian yang sehat adalah kemampuannya untuk menjalin hubungan antar pribadi. Ciri lainnya yaitu kemampuan untuk mengadakan personifikasi diri secara tepat yang dibangun atas dasar relasi-relasi antar pribadi. Setiap pribadi memiliki konsep diri yang terbentuk berdasarkan pengalaman-pengalaman khasnya dalam hubungan relasinya dengan orang-orang atau dengan dirinya sendiri.

Sullivan mengemukakan bahwa diri adalah isi dari kesadaran pada setiap saat jika orang benar-benar senang dengan perasaan harga dirinya, prestise yang diperolehnya di antara sesamanya, serta penghargaan dan hormat yang diberikan mereka kepadanya. Kepribadian adalah sebuah pola atau model yang relatif menetap pada suatu situasi-situasi yang berluang. Kepribadian merupakan konstuk yang hanya dapat diamati dalam konteks tingkah laku interpersonal. Interaksi sosial adalah ciri khas dari manusia dalam membentuk kepribadian, dengan interaksi akan dapat melihat habituasi.

2.3           Struktur Kepribadian

Sullivan tegas memandang sifat dinamik kepribadian, sehingga merendahkan konsep id-ego-superego-dan lain-lain. Yang membuat kepribadian menjadi statis atau stabil. Namun ternyata dia juga memberi tempat penting dalam teorinya beberapa aspek kepribadian yang nyata-nyata stabil dalam waktu yang lama: dinamisme, personifikasi, system self, dan proses kognitif.

2.3.1      Dinamisme

Dinamisme didefinisikan sebagai “pola transformasi energy yang relatis menetap, yang secara berulang memberi ciri kepada organisme selama keberadaannya sebagai organisme hidup”. Karena dinamisme merupakan pola tingkah laku yang menetap dan berulang, maka dinamisme kira-kira sama dengan kebiasaan. Dinamisme-dinamisme yang khas manusiawi adalah dinamisme-dinamisme yang memberi ciri kepada hubungan hubungan atarpribadi seseorang. Misalnya, orang mungkin biasa bertingkah laku bermusuhan dengan seseorang atau sekelompok orang tertentu yang merupakan suatu ungkapan dinamisme kedengkian (Feist 2008).

Dinamisme yang menjadi pembeda antar manusia tidak berhubungan dengan bagian tubuh, tetapi menjadi ciri khas hubungan antar pribadi. Suatu kebiasaan bagaimana mereaksi orang lain, baik dalam bentuk perasaan, sikap, maupun tingkah laku terbuka. Dinamisme dengki (memusuhi orang atau kelompok orang tertentu); dinamisme nafsu (kecenderungan mencari hubungan birahi); dinamisme ketakutan (anak yang bersembunyi dibelakang ibunya setiap menghadapi orang asing); dan dinamisme system self (Alwisol 2012).

Suatu dinamisme biasanya memakai daerah atau bagian tertentu dalam badan seperti mulut, tangan, anus. Dan alat kelamin untuk berinteraksi dengan lingkungan. Kebanyakan dinamisme bertujuan memuaskan kebutuhan-kebutuhan dasar organisme. Akan tetapi ada suatu dinamisme yang penting yang berkembang sebagai akibat dari kecemasan. Dinamisme itu disebut dengan dinamisme diri atau sistem diri (Lindzey 2005).

Sullivan menyebut dinamisme sebagai karakter atau pola-pola perilaku mempunyai dua kelas utama: pertama, kelas yang terkait dengan zona-zona spesifik tubuh seperti mulut, anus, dan alat kelamin; dan kedua kelas yang terkait dengan tegangan-tegangan. Kelas kedua ini terdiri atas tiga kategori- disjungsi/ pemisahan diri, isolasi/ pengucilan, dan konjungsi/ penyatuan. Dinamisme disjungsi mencangkup pola-pola perilaku destruktif yang berkaitan dengan dendam; dinamisme isolatif yang mencangkup pola-pola perilaku (seperti nafsu) yang tidak berkaitan dengan hubungan-hubungan antarpribadi; dan dinamisme-dinamisme  konjungtif mencangkup pola-pola perilaku yang berfaedah, seperti keintiman dan system diri.

 

2.3.2      Sistem Diri (Self-System)

Self system merupakan bagian dinamisme paling kompleks. Suatu pola tingkah laku yang konsisten yang mempertahankan keamanan interpersonal dengan menghindari atau mengecilkan kecemasan. Sistem ini mulai berkembang pada usia 12-18 bulan, usia ketika anak mulai belajar tingkah laku mana yang berhubungan, meningkatkan atau menurunkan kecemasan.

Kecemasan adalah suatu produk dari hubungan-hubungan antarpribadi yang berasal dari ibu dan diteruskan kepada bayi dan dalam kehidupan selanjutnya oleh ancaman-ancaman terhadap keamanannya. Sistem diri sebagai penjaga keamanan seseorang cenderung menjadi terpisah dari aspek-aspek lain dalam kepribadian, sistem diri tersebut tidak akan membiarkan masuknya informasi yang tidak sesuai dengan organisasinya sekarang dan karena itu tidak dapat mengambil pelajaran dari pengalaman.

Dua pengoperasian rasa aman yang terpenting adalah disosiasi atau penjarakkan dan tidak kepedulian selektif atau menutup mata terhadap sesuatu. Disosiasi mencakup impuls-implus, hasrat-hasrat dan kebutuhan-kebutuhan yang ditolak untuk masuk ke dalam kesadaran. Ketidakpedulian selektif adalah control terhadap kesadaran yang nyata yaitu penolakan untuk melihat hal-hal yang tidak diinginkan (Feist 2008).

Sullivan yakin bahwa sistem diri merupakan produk dari aspek-aspek irrasional masyarakat. Maksudnya, anak kecil dibuat supaya merasa cemas dengan alasan-alasan yang tidak akan ditemukan dalam masyarakat yang lebih rasional; ia terpaksa menggunakan cara-cara yang tak wajar dan tak realistik untuk mengatasi kecemasannya.

System self berguna untuk mengurangi kecemasan, hal itu juga mempengaruhi kemampuan manusia untuk hidup konstruktif dengan orang lain. Secara umum, semakin berpengalaman orang dengan kecemasan, semakin besar peran system diri dan semakin terlepas dari kepribadian. Sistem self itu membuat orang tidak dapat membuat penilaian objektif terhadap tingkah lakunya sendiri, menyembunyikan pertentangan yang jelas antara gambaran diri yang diyakininya dengan cara penampilannya dengan orang lain  (Alwisol 2012).

2.3.3      Personifikasi

Personifikasi adalah suatu gambaran yang dimiliki individu tentang dirinya sendiri atau orang lain. Personifikasi adalah perasaan, sikap, dan konsepsi kompleks yang timbul karena mengalami kepuasan kebutuhan atau kecemasan. Gambaran-gambaran itu dibentuk pertama untuk menghadapi orang-orang dalam situasi-situasi antarpribadi yang agak terisolasi, tetapi sekali terbetuk maka gambaran-gambaran itu biasanya tetap ada dan mempengaruhi sikap kita terhadap orang lain. Sullivan melukiskan tiga personifikasi dasar yang berkembang selama masa bayi: ibu-jahat, ibu-baik, dan “aku”. Selain itu, ada juga beberapa anak yang memiliki personifikasi eiditik (teman bermain imajiner) selama masa kanak-kanak mereka (Feist 2008).

a.     Ibu-Jahat, Ibu-Baik (Bad-Mother, Good-Mother)

Personifikasi Ibu-Jahat faktanya tumbuh dari pengalaman-pengalaman bayi dengan puting yang buruk- yaitu puting yang tidak memuaskan rasa lapar, entah puting ini melekat pada ibu atau botol susu yang dipegang ibu, ayah, perawat, atau siapapun yang tidak begitu penting. Setelah personifikasi Ibu-Jahat terbentuk, bayi akan mencapai personifikasi Ibu-Baik yang didasarkan pada perilaku lembut dan kooperatif dari ibu-pengasuh. Dua personifikasi ini, yang satu didasarkan kepada persepsi bayi tentang ibu yang cemas dan pendendam, yang lain kepada ibu yang tenang dan lembut, dan semuanya berkombinasi untuk membentuk sebuah personifikasi kompleks yang terdiri atas pengontrasan kualitas-kualitas yang diproyeksikan kepada satu pribadi yang sama.

b.     Personifikasi “Aku” (Me Personification)

Pada masa periode pertengahan bayi, seorang anak memerlukan tiga personifikasi “aku” (aku-jahat, aku-baik, dan bukan-aku) yang membentuk blok-blok bangunan personifikasi-diri. Setiap personifikasi saling berkaitan untuk memunculkan konsepsi tentang “aku” atau “tubuhku”. Personifikasi aku-jahat lahir dari pengalaman-pengalaman dihukum dan tidak disetujui yang diterima bayi dari ibu-pengasuh mereka. Personifikasi aku-jahat dibentuk dari situasi-situasi hubungan antarpribadi, yaitu bayi dapat belajar bahwa mereka jahat hanya dari seseorang yang lain biasanya dari ibu-jahat. Personigikasi aku-baik dihasilkan dari pengalaman bayi dengan penghargaan atau (reward) dan persetujuan. Namun begitu, kecemasan yang berat muncul tiba-tiba bisa menyebabkan bayi membentuk personifikasi bukan-aku, ditambah pengalaman-pengalaman yang terkait dengan kecemasan-kecemasan tersebut. Personifikasi bukan-aku yang samar-samar ini juga dialami orang dewasa dan diekspresikan dalam mimpi.

c.     Personifikasi Eiditik (Eiditick Personification)

Personifikasi eiditik yaitu karakter tidak realistis atau teman imajiner yang banyak ditemukan anak dalam rangka melindungi rasa percaya diri mereka. Sullivan percaya bahwa teman-teman imajiner ini bisa sama signifikannya dengan teman bermain nyata bagi kesehatan perkembangan anak.

 

2.3.4      Proses kognitif

Sumbangan yang unik dari Sullivan tentang peranan kognisi atau pengetahuan dalam hubungannya dengan kepribadian ialah klasifikasinya tentang pengalaman ke dalam tiga golongan. Tingkatan-tingkatan kognisi ini mengacu kepada cara-cara mengamati, membayangkan, dan memahami. Pengalaman terjadi dalam tiga cara yaitu: prototaksis, parataksis, dan sintaksis (Alwisol 2012).

Pengalaman prototaksis “dapat dipandang sebagai rangkaian keadaan sesaat yang tepisah-pisah dari organisme yang melakukan penginderaan”. Prototaksis adalah rangkaian pengalaman yang terpisah-pisah yang dialami pada masa bayi, dimana arus kesadaran (penginderaan, bayangan, dan perasaan) mengalir kedalam jiwa tanpa pengertian “sebelum” dan “sesudah”. Elemen pengalaman prototaksis-sensasi sederhana-mungkin terus dan tetap menjadi bagian dari kehidupan mental kehidupan orang dewasa, namun orang selalu menghubungkan elemen-elemen itu menjadi kesatuan pengalaman. Prototaksis ini adalah pengalaman paling dini dan primitive dan sulit dilukiskan atau didefinisikan dengan tepat. Satu-satunya cara untuk memahaminya adalah membayangkan pengalaman-pengalaman subyektif paling dini dari seorang bayi yang baru lahir. Pada orang dewasa, pengalaman-pengalaman prototaksis mengambil untuk sensasi-sensasi, perasaan-perasaan, suasana hati, dan impresi-impresi sesaat.

Cara berfikir parataksik meliputi hubungan kausal antara peristiwa-peristiwa yang terjadi kira-kira pada saat yang sama tetapi yang tidak berhubungan secara logis. Sullivan yakin bahwa banyak pemikiran kita tidak pernah beranjak dari tingkat parataksik; bahwa kita melihat hubungan kausal antara pengalaman-pengalaman di mana pengalaman yang satu tidak ada kaitannya dengan pengalaman yang lain. semua tahayul misalnya adalah contoh dari pemikiran parataksik. Kira-kira pada awal tahun kedua bayi mulai mengenali persamaan-persamaan dan perbedaan peristiwa-peristiwa, disebut pengalaman parataksis atau pengalaman asosiasi.

Pada tahap ini, bayi mengembangkan cara berfikir melihat hubungan sebab akibat, asosiasional peristiwa yang terjadi pada saat yang bersamaan atau peristiwa-peristiwa yang mempunyai detil yang sama, tetapi hubungan itu tidak harus logis. Misalnya, bayi yang diberi makan saus apel memakai sendok yang terlalu panas (karena disiram air panas) sehingga lidahnya menjadi sakit. Bayi itu menolak makan, bukan karena rasa saus apel tetapi karena sendok.

Cara berfikir ketiga yang paling tinggi adalah cara berfikir sintaksis yang merupakan aktivitas lambang yang diterima bersama, terutama aktivitas lambang yang bersifat verbal. Lambang yang disepakati bersama adalah sesuatu yang telah disepakati oleh sekelompok orang karena memiliki arti baku. Sullivan menekankan pentingnya tinjauan ke masa depan dalam fungsi kognitif. “manusia, orang, hidup dengan masa lampau, masa sekarang, dan masa yang akan datang, yang semuanya jelas relevan dalam menerangkan pikiran dan perbuatannya”. Tinjauan ke masa depan tergantung pada ingatan orang pada masa lampau dan interpretasinya terhadap masa sekarang (Lindzey 2005)

 Sintaksis adalah berfikir logic dan realistik, menggunakan lambing-lambang yang diterima bersama, khususnya bahasa-kata-bilangan. Sintaksis menghasilkan hubungan logis antar pengalaman dan menungkinkan orang berkomunikasi satu dengan yang lainnya, melalui proses validasi consensus (conesus validation): mencapai konsesus atau persetujuan dengan orang lain mengenai sesuatu dan kemudian meyakinkan kebenarannya melalui pengulangan pengalaman.

 

2.4           Dinamika Kepribadian

Sullivan memandang kehidupan manusia sebagai system energi, dimana perhatian utamanya adalah bagaimana menghilangkan tegangan yang ditimbulkan oleh keinginan dan kecemasan. Energi dapat berwujud dalam bentuk tegangan atau dalam bentuk tingkah laku itu sendiri.

2.4.1      Tegangan

Tegangan adalah potensi untuk bertingkah laku yang disadari atau tidak disadari. Ada sua sumber tegangan utama, yakni: tegangan-tegangan yang disebabkan oleh kebutuhan organisme, dan tegangan sebagai akibat dari kecemasan. “tegangan-tegangan dapat dianggap sebagai kebutuhan untuk mentransformasikan energi khusus yang akan menghilangkan tegangan, seringkali disertai dengan perubahan keadaan ‘jiwa’, yakni perubahan kesadaran, yang dapat kita sebut dengan menggunakan istilah umum kepuasaan” (Alwisol 2012). Sumber tegangan ada dua yaitu;

 

 

a.     Kebutuhan (needs)

Kebutuhan yang mula pertama muncul adalah tegangan yang timbul akibat ketidakseimbangan biologis didalam diri individu atau ketidakmampuan fisikokimis antara individu dengan lingkungannya. Needs biologic dipuaskan dengan member pasokan yang dapat mengembalikan keseimbangan. Kepuasannya bersifat episodic, sesudah memperoleh kepuasan tegangan akan menurun atau menghilang, tetapi sesudah lewat waktu tertentu tegangan yang sama akan muncul kembali.

Kebutuhan tersebut disebabkan oleh hubungan interpersonal . hubungan interpersonal yang terpenting adalah kelembutan kasih sayang (tenderness). Kebutuhan non biologis juga dapat dipuaskan melalui transormasi energy yakni: kegiatan fisik/tingkah laku, atau kegiatan mental mengamati, mengingat dan berfikir. Memuaskan kebutuhan dapat menghilangkan tension. Kegagalan memuaskan need, kalau berkepanjangan dapat menimbulkan keadaan apathy (kelesuan) yaitu bentuk penundaan kebutuhan untuk meredakan tegangan secara umum.

b.     Kecemasan (Anxiety)

Definisi Sullivan tentang kecemasan: “rasa cemas adalah sebuah tegangan yang berlawanan dengan tegangan-tegangan kebutuhan dan memerlukan tindakan yang tepat untuk bisa melepaskannya”. Kecemasan lahir berasal dari transfer dari orang tua kepada bayi lewat proses empati. Sullivan menekankan bahwa rasa cemas dan kesepian adalah keunikan diantara segala pengalaman, yaitu bahwa pengalaman-pengalaman ini sungguh-sungguh tidak diinginkan dan diharapkan.

Sullivan membedakan rasa cemas dari rasa takut dalam beberapa hal. Pertama, rasa cemas biasanya berasal dari situasi-situasi hubungan antarpribadi yang kompleks, dan hadir dalamkesadaran hanya secara samar-samar. Rasa takut lebih mudah dibedakan dan asal usulnya lebih mudah ditemukan. Kedua, rasa cemas tidak mempunyai nilai positif. Ketiga, rasa cemas menghalangi pemuasan kebutuhan, sementara rasa takut membantu manusia untuk memenuhi kebutuhan (Nur 2020).

 

2.4.2      Transformasi energi

Transformasi energy adalah tegangan yag ditransformasikan menjadi tingkah laku, baik tingkah laku terbuka maupun tertutup. Tingkah laku hasil transformasi itu meliputi gerakan yang kasat mata, dan kegiatan mental seperti perasaan, fikiran, persepsi, dan ingatan. Tidak semua transformasi energy merupakan tindakan-tindakan yang gamblang dan terlihat(Riyanta Kris Bawa 2020).

 

2.5           Perkembangan Kepribadian

Sullivan (1953b) mempostulasikan tujuh epos atau tahapan perkembangan, dan masing-masing krusial bagi pembentukan kepribadian manusia. Sullivan berhipotesis bahwa “ketika sesorang melewati salah satu dari ambang-ambang yang kurang lebih tertentu dari suatu era perkembangan, segala sesuatu yang sudah pergi sebelumnya bisa menjadi terbuka secara masuk akal kepada pengaruh-pengaruhnya” (hlm 227). Tujuh tahapan Sullivan adalah masa bayi, masa kanak-kanak, masa anak muda, masa praremaja, masa remaja awal, masa remaja akhir, dan masa dewasa (Nur 2020).

2.5.1      Masa Bayi (Infacy)

Masa bayi dimulai dari kelahiran sampai anak dapat mengembangkan ujaran yang terartikulasikan atau sintaksis, biasanya sekitar usia 18-24 bulan. Sullivan yakin bahwa bayi data menjadi manusia melalui kelembutan yang diterimanya dari ibu-pengasuh. Di sekitar pertengahan masa ini, bayi-bayi mulai belajar bagaimana berkomunikasi lewat bahasa. Sejak awal, bahasa mereka tidak valid secara konsensual namun sudah berlangsung pada tingkatan yang terindividualkan atau parataksis. Periode masa bayi ini dicirikan oleh bahasa autistik, yaitu bahasa pribadi yang sedikit memahami kepribadian orang lain bahkan tidak sama sekali. Komunikasi awal berlangsung dalam bentuk ekspresi wajah dan suara dari beragam fenomena. Keduanya dipelajari lewat pengimitasian sampai akhirnya gerak-gerik tubuh dan suara ucapan memiliki makna yang sama bagi bayi dan orang dewasa. Komunikasi pada tahap iini menandai permulaan bahasa sintaksis dan akhir dari masa bayi.

Perhatian utama bayi adalah makan, sehingga obyek pertama yang menjadi pusat perhatiannya adalah puting susu ibu (atau puting botol). Puting yang mewakili ibu itu menimbulkan paling tidak tiga image, sesuai dengan pengalaman bayi itu dengan puting itu:

a.     Puting bagus (good nipple), puting yang lembut penuh kasih sayang dan menjanjikan kepuasan fisik (bisa terjadi good nipple tidak memuaskan karena diberikan kepada bayi yang tidak lapar)

b.     Bukan putting (not nipple) atau putting yang salah karena tidak mengeluarkan air susu, bahkan merupakan tanda penolakan dan isyarat mencari putting yang lain.

c.     Putting buruk (bad nipple) putting dari ibu yang cemas, tidak memberi kasih sayang dan kepuasan fisik.

Pengalaman makan itu, akan membentuk personifikasi ibu, putting bagus menjadi ibu baik (good mother) dan bukan putting atau putting buruk menjadi ibu buruk (bad mother). Perkembangan pada masa bayi sangat kompleks. Berikut enam ciri yang penting perkembangan menurut Sullivan (Riyanta Kris Bawa 2020):

a.     Timbulnya dinamisme apati, pertahanan tidur, disosiasi dan inatensi.

b.     Peralihan dari prototaxis ke parataxis.

c.     Organisasi personifikasi-personifikasi, baik personifikasi ibu maupun personifikasi diri.

d.     Organisasi pengalaman melalui belajar dan munculnya dasa-dasar system diri.

e.     Diferensiasi tubuh bayi sendiri, mengenal dan memanipulasi tubuh.

f.      Belajar bahasa, dimulai dengan bahasa autisme.

g.     Belajar melakukan gerakan yang terkoordinasi, melibatkan mata, tangan, mulut, telinga, serta organ tubuh lainnya.

 

2.5.2      Masa Kanak-Kanak (Childhood)

Masa kanak-kanak dimulai dengan kedatangan bahasa sintaksis dan terus belajar sampai kemunculan kebutuhan akan rekan bermain yang statusnya setara. Selama tahap ini, ibu masih tetap menjadi pribadi yang lain yang paling signifikan, namun perannya sudah berbeda sewaktu mereka masih bayi. Selama masa kanak-kanak, emosi menjadi timbal balik seorang anak sanggup memberikan kembali kelembutan sebanyak yang sudah diterimanya. Hubungan antara ibu dan anak menjadi lebih pribadi dan tidak terlalu satu sisi lagi. Selain orang tua, anak-anak yang berusia prasekolah sering kali memiliki hubungan signifikan yang lain atau yang disebut dengan teman bermain imajiner. Teman eidetik ini mampu membuat anak memiliki hubungan rasa aman dan nyaman yang menghasilkan sedikit saja rasa cemas.

Sullivan menekankan bahwa memiliki teman imajiner bukan tanda ketidakstabilan atau patologis, melainkan peristiwa positif yang dapat membantu anak menjadi siap untuk menjalin keintiman dengan teman yang riil selama tahap praremaja nanti. Teman teman bermain ini menawarkan sebuah kesempatan untuk berinteraksi dengan ”pribadi” lain yang membuat mereka merasa aman dan tidak akan meningkatkan tingkat kecemasan mereka. Hubungan yang nyaman dan tidak mengancam dengan teman bermain imajiner mengizinkan anak untuk menjadi lebih independen dari orang tua dan menjalin hubungan krab dengan teman-temannya di dunia nyata pada tahun-tahun berikutnya.

Anak mulai belajar menyembunyikan aspek tingkah laku yang diyakininya dapat menimbulkan kecemasan atau hukuman. Mereka memiliki tampilan seolah-olah (as if performance), yakni:

a.     Dramatisasi (dramatization): permainan peran seolah olah dewasa, belajar mengidentifikasikan diri dengan orang tuanya, bagaimana bertingkah laku yang dapat diterima. Misalnya anak berperan sebagai orang tuanya dan menghukum boneka yang bertingkah laku yang tidak dikehendaki.

b.     Bergaya sibuk (preoccupation): anak belajar berkonsentrasi pada satu kegiatan yang membuat mereka bisa menghindari sesuatu yang menekan dirinya. Misalnya, anak mencoba menghindar dari kecemasan mendapat komentar secara pedas orang tuanya, dengan menyibukkan diri dengan koleksi musiknya.

c.     Transformasi Jahat (Malevolent Transformation): transformasi jahat perasaan bahwa dirinya hidup ditengah-tengah musuh, sehingga hidupnya penuh rasa kecurigaan dan ketidakpercayaan bahkan sampai tingkah lakunya paranoid. Ini terjadi karena dramatisasi dan preoccupational (yang kalau dipakai sekedarnya dapat membantu anak tumbuh dan berkembang) dipakai secara berlebihan ketika anak dihadapkan pada kecemasan yang sangat, untuk mempertahankan diri dari bahaya terlibat dengan orang lain.

d.     Sublimasi tak sadar (unwaiting sublimation): mengganti sesuatu atau aktivitas (tak sadar atau unwaiting) yang dapat menimbulkan kecemasan dengan aktivitas yang dapat diterima secara sosial.

Sullvian menyebut masa kanak-kanak sebagai periode akulturasi yang cepat. Selain menguasai bahasa, anak-anak juga belajar pola-pola budaya kebersihan, latihan menggunakan toilet, kebiasaan makan, dan peran yang diharapkan dari setiap jenis kelamin. Mereka juga belajar dua proses penting lain: dramitasi dan penyibukan diri. Dramitasi adalah upaya bertindak atau bersuara seperti figur-figur otoritas yang signifikan, khususnya ibu dan ayah. Kesibukan adalah strategi untuk menghindari situasi-situasi yang memunculkan rasa cemas dan rasa takut dengan tetap sibuk dengan aktivitas-aktivitas sebelumnya yang sudah terbukti berguna dan dihargai (Nur 2020).

 

2.5.3      Masa Anak Muda (Juvenile Era)

Masa anak muda dimulai dengan kemunculan kebutuhan akan teman sebaya atau teman bermain yang status dan tujuannya sama ketika seorang anak menemukan seorang teman karib untuk memuaskan kebutuhannya akan keintiman.

Selama tahap anak muda, Sullvian yakin seorang anak belajar berkompetesi, berkompromi, dan bekerjasama. Derajat kompetesi dapat ditemukan di antara anak-anak usia ini meskipun beragam latar belakang budayanya karena, Sullvian percaya masyarakat Amerika Serikat selalu menekankan kompetisi. Banyak anak percaya bahwa mereka harus bisa kompetitif untuk berhasil. Kompromi juga dapat dilakukan. Seorang anak berusia 7 tahun yang belajar untuk mengalah terus kepada orang lain akan mengalami kesulitan dalam proses sosialisasi, dan ini menghasilkan karakter yang dapat terus mencirikan pribadinya di kehidupan selanjutnya. Kerja sama mencakup semua proses yang dibutuhkan untuk nisa berjalan bersama orang lain. anak di masa anak muda harus belajar bekerja sama dengan orang lain di sunia hubungan antarpribadi yang nyata.

Tahap ini ditandai dengan munculnya konsepsi tentang orientai hidup, suatu rumusan atau wawasan tentang:

a.     Kecenderungan atau kebutuhan untuk berintegrasi yang bisanya memberi ciri pada hubungan antar pribadi.

b.     Keadaan-keadaan yang cocok untuk pemuasan kebutuhan dan relative bebas dari kecemasan,

c.     Tujuan-tujuan jangka panjang yang untuk mencapainya orang perlu menangguhkan kesempatan-kesempatan menikmati kepuasan jangka pendek.

Perkembangan negative yang penting pada tahap ini adalah belajar stereotip, ostrasisme, dan disparajemen (Alwisol 2012):

a.     Prasangka atau streotip adalah meniru atau memakai personifikasi mengenai orang atau kelompok orang yang diturunkan antar generasi.

b.     Pengasingan atau ostrasisme adalah pengalaman anak diisolasi secara paksa, dikeluarkan atau diasingkan dari kelompok sebaya karena perbedaan sifat individual dengan kelompok.

c.     Penghinaan atau disparajemen, berarti meremehkan atau menjatuhkan orang lain, yang akan berpengaruh merusak hubungan interpersonal pada usia dewasa.

Di akhir tahap ini anak muda, seorang anak mestinya mengembangkan sebuah orientasi menuju kehidupan yang membuatnya lebih mudah untuk menangani secara konsisten rasa cemas, memuaskan kebutuhan zonal, dan kelembutan, dan menetapkan tujuan-tujuan berdasarkan kepada memori dan prediksi. Orientasi menuju kehidupan ini mempersiapkan pribadi untuk menjalin hubungan antarpribadi yang lebih dalam kedepan (Feist 2008).

 

2.5.4      Masa Pra-remaja (Preadolescense)

Masa praremaja dimulai pada saat usia 8 ½ tahun dan berakhir dengan masa remaja. Sebuah masa bagi keintiman dengan seseorang, biasanya dengan jenis kelamin yang sama. Kalau semua ditahapan yang sebelumnya anak-anak egosentris, dimana persahabatan mereka dibentuk di atas dasar kepentingan diri, maka dimasa pra-remaja untuk pertama kalinya anak memulai ketertarikan sejati kepada pribadi lain. Sullivan menyebut proses menjadi makhlauk sosial ini “kejaiban tersembunyi praremaja”, merujuk kepada transformasi kepribadian yang dialaminya sendiri selama masa praremajanya.

Tahap preadolesen ditandai oleh beberapa fenomena, (Alwisol 2012) berikut :

a.     Orang tua masih penting, tetapi mereka dinilai secara lebih realistic.

b.     Mengalami cinta yang tidak mementingkan diri sendiri, dan belum dirumitkan oleh nafsu seks.

c.     Terlibat dalam kerja sama untuk kebahagian bersama, tidak mementingka diri sendiri

d.     Kolaborasi chum, kalau tidak dipelajari pada tahap ini akan membuat perkembangan kepribadian berikutnya akan terhambat.

e.     Hubungan chum dapat mengatasi atau menghilangkan pengaruh buruk symptom salah satu yang diperoleh dari perkembangan tahap sebelumnya.

Karakteristik pra remaja yang utama adalah terbentuknya kemampuan untuk mengasihi. Sebelumnya, semua hubungan antarpribadi didasarkan hanya kepada pemuasan kebutuhan personal namun selama masa praremaja keintiman, dan kasih sayang menjadi esensi persahabatan. Sullivan percaya bahwa masa praremaja adalah masa hidup yang tidak terganggu dan bebas. Pengalaman-pengalaman selama masa praremaja sangat kritis bagi perkembangan kepribadian. Jika mereka tidak belajar keintiman pada masa praremaja mereka akan mengalami kesulitan serius dalam hubungan-hubungan antarpribadi selanjutnya. Periode praremaja relatif singkat dan tidak rumit ini akhirnya berhenti dengan dimulainya pubertas.

 

2.5.6      Masa Remaja-Awal (Early Adolescense)

Masa remaja awal dimulai dari pubertas dan berakhir dengan kebutuhan akan cinta seksual terhadap seorang pribadi. Masa ini ditandai dengan meledaknya ketertarikan genital dan datangnya hubungan yang sarat akan nafsu. Kebutuhan akan keintiman yang dicapai selama tahapan-tahapan sebelumnya terus berlanjut pada masa remaja awal ini namun sekarang ditemani oleh sebuah kebutuhan pararel namun terpisah nafsu (lust). Selain itu rasa aman, atau kebutuhan untuk bebas dari rasa cemas masih tetap aktif selama periode ini. Karena dinamisme nafsu bersifat biologis, dia menguasai pubertas tak peduli hubungan antarpribadi sudah dibangun sebelumnya atau individu sudah siap menerimanya.

Sullivan percaya bahwa masa remaja awal adalah timbal balik dalam perkembangan kepribadian. Pribadi dapat keluar dari tahapan ini entah dengan dominasi keintiman dan dinamisme-dinamisme nafsu, atau mengahadapi kesulitan-kesulitan serius dalam hubungan antarpribadi pada tahapan-tahapan selanjutnya. Meskipun penyesuaian seksual penting bagi perkembangan kepribadian, Sullivan merasa bahwa masalah yang rill terletak pada hubungan bersama pribadi yang lain.

 

2.5.7      Masa Remaja Akhir (Late Adolescense)

Masa remaja akhir dimulai ketika anak-anak muda sanggup merasakan nafsu dan keintiman terhadap satu orang yang sama, dan ini berakhir pada masa dewasa saat mereka sanggup membangun sebuah hubungan cinta yang abadi. Ciri utama masa remaja akhir adalah penyatuan antara keintiman dan nafsu. Jika tahapan-tahapan sebelumnya tidak berhasil dilalui, anak muda akan memasuki periode remaja akhir tanpa hubungan antarpribadi yang intim, pola-pola yang tidak konsisten dalam aktivitas seksual, dan kebutuhan besar untuk mempertahankan rasa aman.

Menurut sulivan perkembangan luar biasa tinggi dalam hubungan cinta denga orang lain bukan tujuan utama kehidupan, tetapi sekedar sumber utama kepuasan hidup. Jika orang memasuki tahap ini dengan inflasi system self maka akan menghadapi kecemasan diranah kehidupan, mereka mungkin akan mengalami beberapa masalah dalam tahap ini, seperti personifikasi yang tidak tepat, dan berbagai jenis keterbatasan hidup. Pencapaian akhir periode ini adalah self respect yang menjadi syarat untuk menghargai orang lain. Menurut sulivan, umumnya orang yang menghina atau menjatuhkan orang lain, karena orang itu mempunyai kualitas yang mencemaskan atau memalukan diri sendiri (Alwisol 2012).

 

2.5.8      Masa Dewasa (Adulthood)

Kesuksesan menyelesaikan tahap remaja akhir menjadi puncak masa dewasa, sebuah periode dimana orang dapat membangun sebuah hubungan cinta minimal dengan satu pribadi lain yang signifikan. Sullivan menyatakan bahwa “keintiman yang dikembangkan dengan sangat tinggi terhadap orang lain bukan hal yang utama dalam hidup, tetapi mungkin memang sumber utama kepuasan dalam hidup” . Orang-orang dewasa begitu perseptif terhadap rasa cemas, kebutuhan dan rasa aman orang lain. Mereka menemukan hidup sangat menarik dan menyenangkan. Tabel ringkasan tahap-tahap perkembangan Sullivan :

Tahapan

Usia

Pribadi lain yang Signifikan

Proses Antarpribadi

Pembelajaran yang Penting

Masa bayi

0-2

Pengasuh

Kelembutan

Ibu-baik/ibu-jahat,aku-baik/aku-jahat

Masa kanak-kanak

2-6

Orang tua

Melindungi rasa aman lewat bermain

Bahasa sintaksis

Masa anak muda

6-8 ½

Teman bermain yang setara statusnya

Orientasi menuju kehidupan didunia teman-teman sebaya

Kompetisi, kompromi, dan kerjasama

Masa Pra-remaja

8 ½ - 13

Satu sahabat

Keintiman

Afeksi dan penghargaan dari rekan-rekan sebaya

Masa Remaja-awal

13-15

Beberapa sahabat

Keintiman dan nafsu terhadap orang-orang yang berbeda-beda

Keseimbangan antara nafsu, keintiman, operasi aman, dan operasi rasa

Masa Remaja-Akhir

15-

Kekasih

Penyatuan keintiman dan nafsu

Penemuan diri dan dunia di luar diri

 

2.6           Psikopatologi/ Perubahan Perilaku

Sullivan menyatakan bahwa semua gangguan atau perubahan perilaku disebabkan oleh kecemasan. Sulivan telah menemukan beberapa diagnosis dan treatment yang diperolehnya melalui pekerjaannya sebagai terapis di rumah sakit. Salah satunya adalah Penelitian Schizophrenia. Sullivan memiliki kemampuan dalam menangani penderita Schizophrenia. Sullivan bersih keras bahwa penderita Schizophrenia dapat ditangani oleh terapis yang memiliki kesabaran, pengertian dan ketaatan dalam menangani pasien (Riyanta Kris Bawa 2020).

 

2.7           Kritik terhadap Teori Kepribadian Sullivan

Teori Sullivan cukup komprehensif, namun di kalangan ahli psikologi tidak sepopuler teori Freud, Jung, Adler, dan Erikson. Hal baru yang menjadi kekuatan teorinya adalah memakai interrelasi atau hubungan interpersonal sebagai fokus analisis kepribadian. Bangunan teorinya menjadi sangat logis, bahkan terkadang teori itu sekedar simpulan cerdik dari fikiran sehat (common sense) yang beredar luas di masyarakat.

Secara umum, teorinya mudah dicerna oleh pemerhati, dan mudah dipraktekkan tanpa resiko kesalahan yang tak terduga. Teorri Sullivan tidak dikembangkan berdasarkan data keras, dan tidak banyak pakar yang mencoba meneliti memakai kerangka teori ini. Padahal sesungguhnya teori ini mempunyai peluang yang luas untuk diuji karena konsep-konsepnya banyak yang bersifat teramati, dan hanya sedikit yang mengupas dunia batin yang abstrak. Hal ini mungkin disebabkan oleh organisasi penulisan yang kurang baik, seting Sullivan yang lebih dekat  dengan psikiatri daripada seting akademisi universitas.

Kriteria pertama akan teori yang berguna adalah kemampuannya dalam menghasilkan penelitian. Saat ini, sedikit penelitian yang dilakukan untuk meneliti hipotesis yang secara khusus ditarik teori Sullivan. Kemungkinan penjelasan untuk kurangnya penelitian ini adalah kurangnya popularitas teori Sullivan di kalangan peneliti yang suka mengadakan penelitian. Kurangnya popularitas ini mungkin disebabkan oleh keterikatan erat Sullivan dengan psikiatri.

Kedua, teori yang berguna harus dapat dikaji ulang, yaitu harus terperinci agar dapat dilakukan penelitian yang mampu mendukung atau menyangkal asumsi-asumsi utamanya. Pernyataan Sullivan akan pentingnya hubungan interpersonal bagi kesehatan psikologis telah mendapat cukup banyak dukungan secara tidak langsung. Penjelasan alternative mungkin saja digunakan untuk penemuan-penemuan ini.

Ketiga, seberapa baik teori aliran Sullivan menyediakan keteraturan bagi segala sesuatu yang diketahui mengenai kepribadian manusia? terlepas dari banyaknya dalil yang dijelaskan dalam teori tersebut, teori ini hanya mendapat nilai rata-rata untuk kemampuannya mengorganisasi pengetahuan. Penekanan ekstrem teorinya pada hubungan interpersonal mengurangi kemampuan teori ini untuk mengatur pengetahuan, sebagian besar yang diketahui mengenai tingkah laku manusia memiliki dasar biologis dan tidak dengan mudah disesuaikan dengan teori yang terbatas hanya pada hubungan interpersonal. Sebagai bimbingan atas tindakan, teori Sullivan mendapat nilai antara cukup dan sedang (rata-rata).

Gagasan-gagasan Sullivan memiliki kekurangan karena ketidakmampuan Sullivan menulis dengan baik, namun teori itu sendiri dipikirkan secara logis dan terjaga sebagai kesatuan wujud. Secara keseluruhan, teorinya konsisten, namun kurang memiliki keteraturan yang mungkin bias ia capai bila ia mengerjakan gagasan-gagasannya lebih pada bentuk tulisan.

Terakhir, dalam penilaian teori Sullivan cermat atau sederhana, Sullivan harus menerima nilai rendah. Kesenangannya untuk menciptakan istilah-istilahnya sendiri dan kecanggungannya dalam menulis menambah bentuk yang tidak dibutuhkan untuk teori yang apabila memiliki garis aliran yang jelas, maka akan jauh lebih berguna (Feist 2008).

 


 

BAB III

PENUTUP

3.1           Kesimpulan

Harry Stack Sullivan, orang Amerika pertama yang mengonstruksi sebah teori kepribadian yang komprehensif, yakin bahwa manusia mengembangkan kepribadian mereka dalam sebuah konteks sosial. “sebuah kepribadian tidak pernah bisa diisolasikan dari relasi-relasi antarpribadi yang didalamnya ia tinggal dan membuat keberadaannya jadi demikian”. Sullivan menegaskan bahwa pengetahuan mengenai kepribadian manusia bisa dicapai hanya melalui study ilmiah tentang hubungan-hubungan kepribadian.

Teori interpersonal menekankan pentingnya beragam tahap perkembangan : Masa bayi, masa kanak-kanak, masa anak muda, masa praremaja, masa remaja awal, masa ramaja akhir, dan masa dewasa. Tegangan-tegangan yaitu potensi untuk bertindak terdiri atas: Kebutuhan-kebutuhan (bersifat konjungtif; membantu pengintegrasian kepribadian), kebutuhan-kebutuhan umum (memfasilitasi seluruh kebaikan pribadi), Kebutuhan-kebutuhan zonal (biasajuga memuaskan kebutuhan-kebutuhan umum)

Kecemasan (Bersifat disjungtif; bercampur-aduk dengan pemuasan kebutuhan-kebutuhan). Transformasi-transformasi energi (tindakan-tindakan yang tampak atau tersembunyi, dirancang untuk memuaskan kebutuhan-kebutuhan atau mengurangi kecemasan). Sejumlah transformasi energi menjadi pola-pola perilaku yang relatif konsisten yang disebut dengan dinamisme. Dinamisme-dinamisme atau karakter (pola-pola perilaku) terdiri dari: Rasa dendam (perasaan tinggal dinegeri musuh), Keintiman (pengalaman manyatu yang ditandai oleh hubungan pribadi yang karib dengan orang yang kurang lebih setara statusnya) dan Nafsu (dinamisme pengisolasian diri yang diciikan oleh ketertarikan seksual impersonal kepada orang lain).

Tingkatan-Tingkatan Kognisi (cara-cara mengamati, membayangkan, dan memahami) Prototaksis (pengalaman-pengalaman tak terbedakan yang total dan bersifat personal), Parataksis (pengalaman-pengalaman pralogis yang dikomunikasikan kepada orang lain hanya bentuk yang terdistorsi) dan Sintaksis (pngalaman-pengalaman konsensual yang valid, dapat dikomunikasikan secara akurat kepada orang lain).

3.2           Saran

Demikianlah makalah yang kami buat ini, semoga bermanfaat dan menambah pengetahuan para pembaca. Kami mohon maaf apabila ada kesalahan ejaan dalam penulisan kata dan kalimat yang kurang jelas, dimengerti, dan lugas. Sekian penutup dari kami semoga dapat diterima di hati dan kami ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 


DAFTAR PUSTAKA

Alwisol. 2012. “Psikologi Kepribadian Edisi Revisi.” In . Malang: UMM Press.

Feist, Jess Feist & Gregory J. 2008. Theories of Personality. Yogyakarta: Pustaka Belajar.

Lindzey, Calvin S. Hall & Gardner. 2005. “Teori-Teori Psikodinamik (Klinis).” In . Yogyakarta: Kanisus.

Nur, Fatwikiningsih. 2020. Teori Psikologi Kepribadian Manusia. Yogyakarta: ANDI.

Riyanta Kris Bawa. 2020. “Perkembangan Teori Hubungan Interpersonal Dari Sullivan Hingga Golleman.” Akademika: Jurnal Ilmiah Pendidikan Vol 19 No.

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

ALAT DIAGNOSTIK KEPRIBADIAN OBYEKTIF DAN PROYEKTIF

DISKUSI FILM DAN KAITAN DENGAN TEORI HARRY S. SULLIVAN

makalah MEAN PARAMETRIK